Senin, 01 Juni 2015

Pada Pertengahan Pebruari 2013


'Kamu kapan kesini?'

SMS itu datang di pertengahan bulan Pebruari 2013, sehari setelah kami bertengkar hebat, lalu berbaikan dan berjanji untuk tidak saling mengulangi kesalahan yang sama. Saya langsung melihat kalender, lalu membuka dompet saya. Hanya tersisa beberapa lembar berwarna biru. Saya berpikir panjang. Kalau kesana weekend besok, itu artinya saya harus menebus tiket kereta eksekutif yang harganya jauh di atas uang yang tersisa di dompet saya.

‘Kenapa? Kangen ya? :p’

‘Ih, kok tanya gitu… Hahahaha’

‘Kangen enggak? Kalo kangen, aku kesana deh :D’

‘Iya iya… hehehehe. Jadi maluuu’

Saya tersenyum geli melihat SMS dia. Tidak lama kemudian, dia membuat tweet yang berisi “kode”, meminta saya agar secepatnya kesana. Saya semakin merasa bingung.

‘Kalau bulan depan, gimana?’

‘Enggak bisa secepatnya ya? :(‘

Di tengah kebingungan ini, secara tidak sengaja saya melihat tweet @KAI121 yang sedang mempromosikan tiket promo eksekutif seharga hanya 100ribu! Dewi Fortuna sedang menghampiri saya secara tiba-tiba. 

‘Enggak tau… Tiket kereta ekonomi habis untuk weekend ini, ada pun yang eksekutif. Mahal :(‘
‘Yah, yaudah deh… Yang penting kamu secepatnya kesini…’

Hehehe. Saya terkekeh sendiri di depan layar laptop. Berniat memberi sedikit kejutan untuk dia.
***
‘Coba lihat mention aku barusan,’ saya mengirim SMS kepada dia 2 jam setelah saya berjuang mati-matian mendapatkan tiket promo kereta eksekutif jurusan ke Bandung. Sebenarnya, saya ingin mendapatkan kereta yang langsung jurusan ke Jakarta. Tapi saya telat beberapa menit dari pelanggan lain yang berhasil menyabet tiket yang saya incar. Akhirnya, saya memesan tiket promo jurusan Surabaya-Bandung, Bandung-Jakarta, dan Jakarta-Surabaya. Ya, namanya juga tiker promo… Gapapa lah. Saya jadi bisa jadi jalan-jalan dulu di Bandung.

‘Ihhhhh, seriusan kamu ke Jakarta lusa besok?’

Dia membalas SMS saya setelah melihat twitpict 3 lembar tiket kereta yang saya mention ke dia.

‘Hehehehe. See you :)’

‘Ihhh, enggak sabar deh. See you too :)’


***

Perjalanan ke Bandung saya mulai dengan naik bemo dari rumah saya menuju ke Stasiun Gubeng. Setelah berpamitan pada orang tua, saya sempatkan mampir Indomaret untuk membeli 2 botol Aqua berukuran jumbo untuk bekal di perjalanan. Barang-barang saya terlampau tidak cukup untuk saya masukkan ke dalam tas. Saya pun membawa koper berisi baju-baju yang didesaki dengan 2 botol Aqua jumbo serta peralatan mandi. Di sepanjang perjalanan di atas bemo, orang-orang ngelihatin saya dengan tatapan enggak banget. Keliatannya elit bawa koper mau pergi jauh, tapi naik bemo. Ya, namanya juga ngirit, mas bro…

Sesampai di Stasiun Gubeng, kereta yang akan membawa saya ke Bandung ternyata sudah siap. Saya sangat beruntung. Tidak hanya mendapat tiket promo, ternyata kursi sebelah saya tidak ada orangnya. Saya lebih leluasa menikmati tempat duduk, hehehe. Namun, saya mendapat teman ngobrol sepanjang perjalanan. Seorang mahasiswi semester 2 yang berkuliah di suatu universitas di Jogja. Saya mendapat banyak cerita untuk bekal saya kelak menjadi mahasiswa. Di tengah obrolan, sesekali saya berkomunikasi dengan dia yang berada di Jakarta sana.

‘Maaf, sinyal di atas kereta susah banget. Tapi aku bales kok tiap ada sinyal…’

‘Iya, gpp, aku ngerti kok. Yang penting, rindu aku besok terbalaskan…’

‘Preeet!’

Saya tertawa cekikikan membaca gombalan dia. Mbak Mahasiswi di depan saya memasang tampang melongo tanda heran dengan tingkah saya.


Sepanjang perjalanan ke Bandung di atas rel baja saya merasa bahagia. Tidak berhenti saya tersenyum-senyum sendiri. Bahagia karena banyak sekali keberuntungan yang saya dapatkan. Bahagia karena rasa debar yang semakin mengganggu hati saya, ingin sekali menuntaskan rindu bertemu dengan dia di Jakarta sana. Saya teringat lirik sebuah lagu JKT48: “Kebetulan itu sebenarnya skenario yang telah disiapkan, tanpa diketahui oleh siapapun. Setiap kali diriku memikirkan dirimu dadaku jadi sesak bernafas pun menjadi sulit, I’m loving you! ♪♪♪’

Lagu itu saya putar berulang kali di perjalan saya di atas rel baja. Saya tidak peduli status kami yang tidak jelas tanpa ada kepastian. Untuk sekarang, yang ingin saya rasakan adalah selalu bahagia. Itu saja cukup. Perjalanan di atas baja kurang lebih 11 jam yang biasanya saya lewatkan dengan berbagai macam aktifitas untuk mengusir kebosanan, kini tergantikan oleh senyum yang menghiasi wajah saya sepanjang perjalanan. Saya tidak sabar untuk bertemu dengan dia besok.

***

Setelah sehari bermalam di rumah seorang teman di kawasan Sarijadi, Bandung, hari ini saya hendak menuju ke Jakarta. Saya diantarkan teman saya menuju Stasiun Bandung dengan sepeda motor, setelah jalan-jalan berkeliling kota Bandung sebentar. Tiba di Stasiun Bandung, saya langsung menuju ruang tunggu penumpang. Kereta baru akan berangkat 1 jam lagi, tapi saya sudah tiba di Stasiun. Waktu yang masih lama saya manfaatkan dengan mencharger HP saya dan membaca novel sambil menikmati Live Music yang dilantunkan oleh pemain musik di ruang tunggu Stasiun Bandung. Saya sangat menikmati momen ini. Ruang tunggu yang sangat bersih, hawa udara kota Bandung yang sangat sejuk, wajah ceria anak-anak yang lalu lalang bermain-main di ruang tunggu, para penumpang yang tiba di Stasiun Bandung dengan muka cerah, beberapa orang tua yang tertawa melihat kekonyolan seorang temannya yang berani tampil menyanyi dengan diiringi para pemain musik di ruang tunggu Stasiun Bandung. Saya pun sempat mengeluarkan selembar 5 ribu rupiah sebagai tanda apresiasi atas penampilan para pemain musik di ruang tunggu Stasiun Bandung yang sangat menghibur.

20 menit sebelum kereta yang akan membawa saya ke Jakarta berangkat. Tiba-tiba, suasana ruang tunggu Stasiun Bandung mendadak ramai. Banyak orang yang membawa kamera, mic, dan alat rekam lainnya tergopoh-gopoh beramai-ramai masuk ke lintasan rel kereta api. Mungkin itu para wartawan. Keheranan saya terjawab 5 menit kemudian, ketika saya menangkap sosok Pak Joko Widodo berjalan beriringan dengan Teteh Rieke Dyah Pitaloka dengan pengawalan ketat dari para bodyguard dan simpatisan mereka. Oh, Pak Jokowi lagi mau kampanye pencalonan Teteh Rieke Dyah Pitaloka di Bandung, toh. Momen ini tidak saya lewatkan begitu saja. Saya langsung mencabut kabel charger HP saya, dan menuju masuk ikut berdesakan dalam rombongan Pak Jokowi. Kapan lagi saya bisa ketemu idola saya satu ini? Saya semakin mendesak masuk ke dalam rombongan, berusaha mendekati Pak Jokowi. Bingo! Setelah 2 menit berdesakan, saya berhasil menggapai tangan beliau dan menjabatnya erat beberapa detik. I’m love this moment. Tiket kereta api eksekutif yang murah, perjalanan yang menyenangkan, suasana yang bahagia, masih ditambah dengan saya berhasil bersalaman dengan idola saya! 3 hari ini alam semesta sedang berbaik hati pada saya.

***

Perjalanan di atas rel baja Bandung-Jakarta kurang lebih 3 jam, saya habiskan dengan mendengarkan musik melalui earphone sambil melihat pemandangan yang menakjubkan. Beberapa jam ini saya tidak berhenti mengucapkan Subhanallah dalam hati. Memang luar biasa Allah menciptakan dunia dan seisinya. Begitu indah, sangat indah. Saya takjub dengan suguhan pemandangan melalui jendela kereta.

Tiba-tiba, seorang ibu-ibu yang duduk di samping saya mencolek saya, dan menyodorkan sebuah biskuit. Saya membalasnya dengan melambaikan tangan kanan saya sedikit sambil tersenyum tanda menolak dengan halus sekaligus berterimakasih sudah menawarkan. Pandangan saya teralih pada HP, ada SMS masuk. Rupanya SMS dari kakaknya yang tinggal di Bogor.

‘Katanya neng kamu ke Jakarta, ya? Sini main sama A’a.’

‘Iya A’a, ini lagi perjalanan ke Jakarta. Emang A’a lagi dimana?’


‘Di Bogor. Oh, langsung mau ketemu neng di Jakarta?’

‘Iya. Tapi boleh deh main sama A’a. Aku naik apa ke Bogor?’

‘Kamu naik aja KRL jurusan ke Bogor, bilang kondekturnya turun di Stasiun Bogor. Kamu udah ada tempat menginap? Kalau mau menginap aja disini.’

‘Oke. Mungkin aku kesana Insya Allah jam 10 malam. Gapapa nih? Takut ngerepotin kalau menginap disana, hahaha.’

‘Santai aja. Ada mama, kok. Insya Allah dibolehin.’

‘Oke deh. Nanti aku hubungin lagi.’

Ah, diajak nginap di rumah calon mertua, hehehe. 


***
Setelah pertemuan singkat dengan dia di Jakarta, saya bergegas menuju Stasiun Dukuh Atas hendak menuju ke Bogor. Dia sedang ada jadwal lain yang tidak bisa ditinggalkan, dan kami membuat janji untuk bertemu keesokan harinya lagi. Pertemuan singkat namun penuh dengan makna. Selama pertemuan singkat tadi, saya lebih banyak mendengarkan dia yang bercerita dengan penuh antusias, sambil menikmati senyumnya yang merekah indah. Kami lalu berpisah diakhiri 2 telapak tangan yang bertemu satu sama lain di udara, berjanji bahwa esok hari kami akan membuat sebanyak mungkin kenangan yang mengesankan. Saya memutuskan tidak menceritakan kalau saya hendak menginap di rumah dia di Bogor, takut dia marah.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 21:20 ketika saya tiba di ruang tunggu KRL hendak menuju Stasiun Bogor. Saya duduk lesehan di tepi lintasan kedatangan kereta, sambil berkomunikasi dengan kakak dia yang sedang bersiap menjemput saya setiba di Stasiun Bogor.

Ini pertama kalinya saya naik KRL. 8 ribu rupiah menurut saya sangat layak untuk perjalanan ke Stasiun Bogor dengan sangat nyaman. AC yang dingin, kursi yang empuk. Ditambah lagi, penumpang KRL kali ini tidak begitu banyak, jadi saya bisa leluasa meletakkan barang-barang saya di samping duduk saya.


‘Udah sampai mana, Ron? Kamu naik ojek aja ke tempat Z, nanti A’a ganti ongkosnya.’

‘Enggak tau nih, tapi kata penumpang sebelahku kurang lebih 10 menit lagi sampai. A’a enggak jadi jemput aku? Oke deh. Nanti aku hubungin kalau udah di depan tempat Z.’

Saya lalu menghubungi seorang teman baik saya, Taufik namanya, seorang Railfans yang tinggal di Bogor.

‘Fik, lu tau tempat Z enggak?’

‘Oh, itu deket rumah gue kok. 1 km dari sini. Emang kenapa?’

‘Itu kalau dari Stasiun Bogor kesana jalan kaki jauh enggak?’

‘Enggak seberapa sih. Itu tempat Bilyard.’

‘Oh, tempat Bilyard… Yaudah, makasih, fik.’

Tidak lama kemudian, display HP saya menunjukkan ada SMS masuk.

‘Ron, udah dimana? A’a udah di depan pintu keluar Stasiun Bogor.’

‘Loh, bukannya A’a enggak jadi jemput?Kayaknya bentar lagi sampai deh.’

Belum sampai saya menekan tombol sent, kereta yang membawa saya berhenti dengan perlahan, menandakan bahwa sudah tiba di Stasiun Bogor. Saya klik tombol sent SMS saya, lalu bergegas berlari keluar dari KRL, menyapu pandangan di sekitar saya, mencari sosok A’a.

Perjalanan 20 menit menuju rumah dia di Bogor menggunakan sepeda motor A’a, saya habiskan dengan mendengar cerita A’a. A’a bercerita banyak tentang si dia, mamanya, dan keluarganya. A’a lalu berpesan bahwa jangan bilang ke mamanya kalau dia barusan dari tempat bilyard, takut dimarahin. Dia bercerita bahwa  mamanya melarang dia mendalami bilyard, takut dengan pengaruh dunia malam. Padahal, A’a adalah atlet bilyard di kota Bogor dan berhasil tembus di tingkat Jawa Barat. Saya bisa mengerti hal itu. Terkadang memang orang tua tidak setuju dengan apa keinginan kita, walaupun itu baik. Faktor kekhawatiran menjadi yang paling utama.

***
2 hari berlalu semenjak saya tiba di Bogor.

Kini saatnya saya harus pulang ke Surabaya. 3 hari yang sangat menyenangkan, sekarang menjadi kenangan manis untuk saya ingat. Di rumah dia di Bogor, mamanya banyak bercerita tentang dia yang ditinggal papanya saat masih kecil. Mamanya bercerita banyak hal tentang kebiasaan, keseharian, dan banyak hal tentang dia. Saya makin kagum dengan dia, ketika mamanya bilang bahwa dia memiliki 2 lemari penuh berisi piala hasil prestasi dia sejak kecil. Nyali saya menjadi ciut. Saya merasa bahwa saya sangat tidak sebanding dengan dia. Tapi saya sangat beruntung bahwa untuk sementara ini dia memilih saya, walaupun tanpa status yang jelas. Komunikasi, pertemuan kami, sudah cukup untuk menjelaskan bahwa kami memang mempunyai rasa yang sama. Yang harus saya lakukan sekarang adalah, memperbaiki diri sebaik dan sehebat mungkin agar kelak bisa pantas untuk dia.


Pukul 19:30 tanggal 17 Pebruari 2013 saya pulang ke Surabaya menaiki Kereta Api Eksekutif Sembrani dari Stasiun Gambir dengan membawa kenangan serta kebahagiaan yang begitu luar biasa indahnya. Di sepanjang perjalanan di atas rel baja menuju Surabaya, saya terus-menerus berusaha berkomunikasi dengan dia, sesakali sambil mengeluh susahnya sinyal  di atas kereta.

‘Kamu udah baca surat dari aku?’

‘Udah, bagus banget! Aku jadiin scrapbook, kasih hiasan juga hehehe.’

‘Hahaha. Semoga suka, ya :)’

‘Suka banget kok. Makasih ya, makasiiiihhh banget.’

‘Waaahhhh >< Eh iya, menurut mama kamu, aku orangnya gimana?’

‘Baiiikk, tapi susah dibangunin! Hahaha :p’

'Ya emang aku gitu… -_- Terus apa lagi katanya?’

‘Emmm, itu aja sih… Kenapa emang?’

‘Gapapaaa. Coba tanyain, mau enggak kalo aku jadi menantu mama kamu?’

‘Heh! Hahahaha.’

‘Hahahahhaa :p’

‘Makasih banyak sekali lagiiiiiiiii. Aku seneeeenggg bangeeeetttt”

'Terimakasih juga buat semuanya! Tidur sana, udah jam 10 malam. Besok kamu sekolah, toh?’

‘Iya, hehehe. Kamu juga tidur, ya. Besok masuk pagi juga, kan? Apa enggak dimarahin kalau datang terlambat?’

Enggak, tenang aja. Kan ayahku udah buatin izin surat terlambat. Udah, udah, tidur sana…’

‘Iyaaaa, aku tidur dulu ya :D Thank you, good night, have a nice dream :)’

‘Have a nice dream too. Selamat tidur, kamu :)’

Malam itu, di atas kereta berkecepatan tinggi yang berlari di atas rel baja, saya mendekap selimut erat-erat menutupi seluruh tubuh saya melawan hawa dingin AC dalam kereta. Dibalik selimut, saya tersenyum. Tubuh saya kedinginan, namun perasaan saya sangat hangat. Malam itu saya pulang dengan senyum yang mengembang sepanjang perjalanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar