Rabu, 03 Juni 2015

Kenapa Politik?

Roni kecil terlahir pada tahun 1997, setahun sebelum reformasi besar-besaran yang mengubah alur hidup Indonesia untuk ke depannya. Roni kecil lahir setelah harapan seorang Ayah selama belasan tahun yang mendambakan mempunyai anak laki-laki.

32 tahun Soeharto berkuasa, begitu besar kesenjangan sosial yang nampak menganga begitu besar di hampir seluruh penjuru Indonesia. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, begitu kata banyak orang. Walau jurang kesenjangan sosial begitu tinggi, problem yang menumpuk di Bangsa ini, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Dibutuhkan mental baja dan kegigihan serta semangat pantang menyerah untuk membawa Bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Negara Indonesia yang semula dibentuk dengan cita-cita terlepas dari penjajahan, justru bagi sebagian besar rakyatnya merasakan penjajahan oleh Negerinya sendiri. Para pemimpin yang dulunya bersatu mati-matian berjuang merampas hak untuk merdeka dari para penjajah, tidak diwarisi dengan baik oleh tahun-tahun berikutnya, bahkan para pemimpin awal-awal tersebut. Suatu ketika, Soekarno pun dengan egoisnya mengeluarkan statement bahwa dia adalah seorang Presiden seumur hidup. Keegoisan menggerus hati nurani dan membuat ribut di Ibu Pertiwi ini. G/30 S PKI, Reformasi, pemberontakan disana-sini adalah beberapa contoh yang berpengaruh di sejarah kehidupan di Indonesia. Sejarah di Indonesia adalah sejarah yang panjang. Sejak kerajaan-kerajaan pun sudah banyak pertikaian untuk merebutkan kekuasaan. Orang-orang yang awalnya ingin memasuki kursi kekuasaan dengan cita-cita untuk menyejahterakan rakyat, kian lama malah menjadi gila kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, demi kesombongan, kebanggaan diri, melindungi diri, memperkaya diri, memuaskan egois sendiri-sendiri. Banyak faktor yang membuat mereka seperti itu; harta, tahta, bahkan juga wanita.  Semoga saya bukan salah satu dari itu.

Harta. Ayah saya mengajarkan pada saya tentang bukan masalah apakah ketika dewasa nanti saya menjadi orang yang kaya raya, bukan. Ayah mengajarkan pada saya untuk selalu bersyukur dengan apapun keadaan saya sekarang. Karena rasa syukur itu adalah kekayaan yang paling besar yang bisa kita rasakan, seburuk apapun keadaan kita seakarang.

Tahta. Sejak kecil hingga sekarang, saya tidak begitu mengerti kenapa begitu banyak orang yang berebut Tahta. Sebagian mindset anak-anak adalah “saat dewasa, saya bercita-cita jadi apa, ya?” Semestinya, mindset terbaik yang tertanam adalah “saat dewasa, saya akan melakukan apa saja, ya?” Mindset inilah yang menurut saya semestinya diterapkan oleh orang-orang di seluruh Indonesia. Jadi, tidak peduli apakah kamu seorang Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, anggota DPR, DPD, DPRD, MK, MA, KY, TNI, Ketua PSSI, Menteri, dan lain-lain. Tapi, bertanyalah pada diri kita masing-masing: “apa yang bisa saya perbuat untuk Indonesia?” Jika semua orang mempunyai mindset begitu, tidak akan pernah ada lagi yang namanya perebutan kekuasaan. Tidak ada kisruh, karena semua punya peran masing-masing untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Wanita. Uhm, untuk yang ini, saya berusaha untuk patuh pada pesan-pesan dari Ibu saya dalam mencari pasangan. Tentunya, saya ingin mencari wanita terbaik supaya Ibu saya bisa tenang. Seorang wanita yang cantik hatinya, yang tidak menunggu saya berada diatas terlebih dahulu, baru memilih saya; tapi siap menemani saya dari bawah. Saya pernah mendapatkan pesan dari seorang teman, ‘Take a chance, Ron. Tidak ada perjalanan yang terasa panjang jika kita mempunyai teman seperjalanan yang menyenangkan.’

Usia saya kini 18 tahun. Saya disodori oleh begitu banyak pilihan dan kesukaan saya untuk akhirnya saya prioritaskan; dan saya memilih politik. Bagi teman yang sangat mengenali saya, mereka tidak akan heran. Tapi bagi yang baru mengenal saya (atau tidak sreg dengna politik), mereka akan heran kenapa saya memilih politik, padahal saya punya passion yang banyak; musik, menulis, olahraga, sains, astronomi, dan lain-lain. Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi biasa saja, atau terlupakan; atau tertulis dalam tinta emas, menjadi bagian dari Indonesia yang lebih baik. Saya mempunyai keinginan untuk berbuat banyak hal di bidang politik, dan hal itu sudah saya mulai perjuangkan semenjak saya duduk di bangku SMP. Saya punya cita-cita Indonesia suatu saat menjadi bangsa yang unggul dalam hampir segala hal. Ayah saya tidak pernah mengajari sama sekali ke saya tentang politik. Semenjak kecil saya belajar politik secara otodidak. Beliau memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih jalan kehidupan saya, dan sangat mendorong apapun pilihan saya. Kakak dan Ibu saya mendorong untuk masuk dunia hukum. Tapi, saya merasa bahwa jika masuk politik, kesempatan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik lebih besar. Tapi, walau saya masuk dunia politik, bukan berarti saya mengabaikan dunia hukum.


Saya tidak tau pasti apakah pilihan saya ini yang paling tepat. Semoga saja ini yang tepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar