Sabtu, 23 November 2013

Pajama Drive



Brak!

Aku tersentak kaget. Membuat susu yang sedang ku minum tumpah mengenai piyama ku. Ku tutup buku yang sedang kubaca dengan cepat, lalu menyapukan mataku ke penjuru kamar. ‘Apaan sih?’ gumamku heran.

Brak!
Aku menoleh ke arah jendela kamar, menyadari sumber suara itu berasal dari sana. Aku bergidik merinding, pikiranku mulai diselimuti hal-hal yang tidak enak.

Brak!

‘IIIIIHHHHHH, APAAN SIH?!’ Aku bangkit dengan cepat, lalu menghampiri jendela kamarku yang terbuat dari kayu dan membukanya.

‘Shan. Sssttt!!!’ Seseorang memanggilku dari bawah. Aku melihat ke arah bawah dari jendela kamar, dan mendapati Ron sedang menengadahkan kepalanya ke atas melihat ke arahku.

‘Ron? Ngapain?’ Aku memasang wajah bingung.

Tangan kanan Ron bergerak ke kanan-kiri dengan cepat. ‘Turun sini!’

‘Hah?’ Aku semakin tidak mengerti.

‘Cepat!’

Aku mengernyitkan dahi. Aku melirik ke jam dindingku, pukul 23:24.

‘Ayo, Shan. Tunggu apalagi? Cepat turun!’

‘Ada apa sih?’

‘Nanti saja aku jelaskan. Cepat turun!’

***

Pajama de doraibu

Dengan sinar bulan

Sebagai petunjuknya

Dari jam segini

Kemana’ kan pergi

Kencan yang rahasia



Jam tangan digital’ku menunjukkan pukul 23:48.

Di sebelah kananku, Ron memacu mobil dengan kencang. Aku tidak habis pikir, kenapa aku sekarang bisa  berada di dalam mobil berdua dengan seorang cowok. Semestinya sekarang aku sedang bobok cantik diatas tempat tidurku. Maaf saja ya, bukannya aku cewek murahan atau bagaimana. Ini pertama kali aku keluar rumah pada jam tengah malam dengan seorang cowok. Otakku berkata untuk tidak menuruti apa kemauan Ron, tapi hatiku berkata sebaliknya. Aku hendak menolak, tapi… Entahlah. Otakku seperti terbius, tidak bisa berpikir secara jernih. Yang ku lakukan malah tidak sesuai perintah otakku. Jadilah sekarang aku berada di mobil bersama Ron.

‘Pakai sabuk pengamannya.’ Suara Ron memecahkan keheningan.

‘Emang kita mau kemana?’

‘Ke restoran,’ jawab Ron singkat.

‘Haaaaaaahh???’ Aku melongo parah. Ke restoran? Tengah malam begini? Dengan pakaian yang sedang ku kenakan saat ini? Emangnya, tidak ada hari lain apa?

Drrt… Drrt…

Ponsel di saku’ku bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Aku keluarkan ponselku dari dalam saku, lalu melihat nama penelponnya: Papa. Aduh…

Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan telepon dari Papa. Aku takut. Memang sih, aku salah. Pergi keluar rumah tengah malam begini tanpa pamit Papa atau Mama. Ditambah lagi, dengan seorang cowok. Kalau Papa tau, bisa-bisa marah besar.
***

‘Mau pesan apa?’ tanya Ron, ketika kami duduk berhadapan di dalam restoran.

‘Hmmm… Sama kayak kamu aja deh.’

‘Oke,’ kata Ron. Dia mengalihkan pandangannya kepada pelayan restoran. ‘Nasi ramen dua ya mbak. Dua orange juice, sama…’ Ron mengehentikan omongannya, lalu menoleh ke arahku. ‘Kamu mau chocolate coffe juga?’

Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil. ‘Boleh.’

‘Sama dua chocolate coffe ya mbak,’ kata Ron kemudian. Mbak-mbak pelayan itu mencatat pesanan Ron dengan cepat, lalu berjalan ke arah kasir.

Aku menghela napas panjang. Mataku menyapu pandangan ke sekeliling. Orang-orang di sekelilingku menatapku aneh. Wajar. Aku masuk ke dalam sebuah restoran dengan pakaian piyama yang… terlihat bodoh. Salah apa aku Tuhan, pacarku tiba-tiba aneh seperti ini?

‘Kamu ngapain sih bawa aku ke tempat seperti ini?’

Ron mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata, ‘Enggak. Gapapa. Kangen aja. Tiba-tiba pengen ketemu kamu.’

Aku tersenyum, lalu menggeleng kecil. ‘Ron… Kayak besok udah kiamat aja. Kan masih ada besok bisa ketemu…’

‘Kalau malam ini aku mati, gimana?’

Aku mengernyitkan dahi. ‘Kok kamu mikirnya gitu sih?’

‘Ya….’ kata-kata Ron menggantung. Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, pelayan restoran datang membawakan pesanan.

‘Silahkan.’ Pelayan itu menyodorkan sebuah kue bercorak pink, lengkap dengan angka 17 di atasnya.

‘Loh, emangnya kamu pesan kue, Ron?’ tanyaku.

‘SELAMAT ULANG TAHUN!’

Toeeet.. Toeeet..

Aku menutup kedua telingaku saking kerasnya bunyi terompet dari belakangku. Suasana yang tadinya sepi, tiba-tiba jadi ramai. Hal yang terjadi berikutnya adalah papa, mama, kakak bergantian mengucapkan selamat kepadaku, mengecup pipiku, dan heboh sendiri membuat seisi restoran bising. Bodoh, memang. Aku bisa lupa dengan hari ulang tahunku sendiri. Sementara di hadapanku, Ron hanya diam sambil tersenyum memperhatikan kelakuan keluarga’ku. Dasar… Aku yakin, ini pasti semua rencana Ron. Aku dikerjain. Sialan.
***
Pagi ini, aku sibuk mempersiapkan perayaan ulang tahun Ron. Aku membuat kue ulang tahun bercorak biru, warna kesukaan Ron, yang di dominasi dengan rasa cokelat. Aku berjanji pada Ron saat makan bersama dengan keluargaku setelah surprise ulang tahunku, aku akan membalas perbuatannya di ulang tahunnya kelak. Aku mempersiapkan segalanya. Sore hari aku tertidur setelah membereskan semuanya, dan terbangun ketika pukul 11 malam. Cepat-cepat aku berbenah diri, mendandani diriku sendiri secantik mungkin untuk hari besar ini. Setelah siap, aku keluar rumah melalui jendela kamarku, persis seperti kejadian dulu.
Pukul 23:48 aku tiba di restoran yang sama saat Ron membawaku kemari di ulang tahunku yang ke-17. Aku masuk ke dalam restoran, dan mengambil duduk di tempat yang sama seperti dulu. Aku membooking tempat duduk ini sebulan yang lalu, spesial untuk perayaan hari besar ini. 

Pukul 23:59. Aku mengeluarkan kue ulang tahun Ron, dan memasangkan lilin angka di atasnya, lalu menyalakan api. 

Tepat pukul 00:00, menandakan hari telah berganti. Menandakan mulainya hari besar ini, bagiku. Aku berbisik, ‘Selamat ulang tahun yang ke-28, Ron. Aku harap, kamu selalu bahagia disana. Jaga diri baik-baik ya. Selalu, aku akan menyayangimu…’

Aku meniup lilin ulang tahun Ron, lalu mengucap doa dalam hati. Ini sudah ke-10 kalinya aku melakukan ini. Kecelakaan yang menimpa Ron setelah pulang dari restoran ini 10 tahun silam, membuat hatiku hancur sehancur-hancurnya. Kabar duka itu mengejutkanku tiba-tiba, ketika di pagi hari aku terbangun dengan boneka pemberian Ron di ulang tahunku yang ke-17. Aku shock. Perasaanku hancur. Aku terlarut sedih yang sangat dalam. Aku… 

Ku potong kue ulang tahun Ron, lalu kumakan sendiri bagian yang kupotong itu. Manis, bercampur asin. Bukan. Bukan karena aku sengaja memberi rasa asin di dalam kue yang kubuat sendiri. Melainkan, karena bercampur dengan air mata yang jatuh tak terbendung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar