Sabtu, 23 November 2013

Idol Nante Yobenaide

‘Kamu datang!’ Aku memekik senang ketika melihat George duduk sendiri di F5. Aku cepat-cepat mengambil tempat di depannya, lalu menaruh tasku sembarangan.

Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, menaikkan alis sedikit, lalu melemparkan senyum. ‘Tentu saja.’

Aku membalas senyumnya. Mataku mulai menjelajah memperhatikan wajah dan penampilannya. Astaga. Wajahnya ternyata tidak seburuk yang selama ini kulihat di akun-akun sosmednya. Dari yang ku tau selama ini, dia berkulit lebih hitam dari apa yang kulihat langsung sekarang ini. Masa’ dia perawatan, sih?

George Sastromihardjo, seorang Indo-Amerika. Dia lahir di Indonesia, tapi semenjak kecil pindah ke Amerika, dan baru kembali ke Indonesia 2 hari yang lalu. Mamanya keturunan Prancis, Papanya keturunan Solo asli. Perpaduan yang terlalu mencolok, menurutku. Asal kalian tau, selama 15 tahun di Amerika tidak membuat George berkulit putih layaknya anak bule yang lain. Aku sering men-stalk foto-fotonya di akun sosmednya. Maaf saja, bukannya aku murahan. Tapi, sungguh. Aku benar-benar dibuat penasaran oleh dia seperti apa orangnya. Dia sosok yang misterius, sekaligus menyenangkan. Ini pertemuan kami yang pertama kali secara langsung. Sebelumnya, kami sering berkomunikasi lewat dunia maya. Kami berkenalan sekitar setahun lebih yang lalu, ketika 3 bulan sebelum audisi generasi ke-1 JKT48. Awalnya kami hanya berteman biasa, teman chatting. Setelah gagal lolos audisi, aku ngedrop. Seminggu lebih aku sakit parah. Mamaku saja bingung bagaimana membuat semangatku untuk bangkit lagi. Tapi, entah dengan sihir apa, George bisa menumbuhkan semangat hidupku. Lewat sebuah chatting panjang. Dan pada akhirnya, aku bisa berada disini. Sebagai embel-embel member JKT48 generasi ke 2. Secara tidak langsung, bagiku, George sudah berpengaruh besar hingga aku mendapatkan titel ini.

‘Kamu perform show ke berapa nanti?’ tanya George, membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak, gelagapan. ‘Oooh… oh…. Show ke-2.’ Goblok. Kenapa aku bisa sampai melamun memperhatikan dia barusan?
            
          George tidak menjawab. Dagunya naik sedikit, kepalanya mengangguk-angguk. Lalu, ada jeda hening yang cukup lama. Aku bingung mau memulai obrolan darimana. Kecanggungan menyeruak diantara kita. Sialan.
            
        ‘Menang tiket theater show ke-2?’ tanyaku. Lagi, George tidak menjawab. Hanya menggeleng kecil. Aku mengernyitkan dahi. ‘Lalu?’
           
          Cowok di depanku ini menaikkan bahunya. ‘WL, mungkin.’
           
          Aku tersenyum menyeringai. Tanganku mengepal ke udara. ‘Good luck.’

Mataku beralih menyapu pandangan di sekelilingku, dan baru menyadari satu hal. Banyak wota-wota yang sedang memperhatikan kami yang sedang duduk berdua berhadapan, di samping kedai Bakso Malang. Aku menatap mereka satu per satu, dan sedetik kemudian mereka seperti salah tingkah, lalu berpura-pura sedang tidak melihat kami lagi. Sial, ini bisa jadi gossip yang tidak-tidak.
***
15 menit lagi show dimulai. Aku bolak-balik menggosokkan kedua tanganku yang tiba-tiba terasa dingin. Nervous. Aku gugup. Hari ini adalah Shonichi setlist kedua tim trainee, Boku no Taiyou. Jujur saja, aku takut kalau sampai di panggung tiba-tiba aku ngeblank. Terutama, saat sesi MC. Bisa-bisa, aku pecicilan tidak karuan karena saking gugupnya. Itu hal terbesar yang aku takutkan. Aku takut, fans-fans jadi ilfeel terhadapku.
            
      ‘Ini, bandonya.’ Yupi menyodorkan sebuah bando kepadaku. Aku menghentikan gosokan, meraih bando di tangan Yupi. ‘Gugup?’
          
         Aku menghela napas. ‘Iya...’
           
     Yupi tersenyum. Pipinya mengembang. Menggemaskan. ‘Semua akan baik-baik saja.’ Tangannya menepuk pundakku. Aku membalasnya dengan mencubit kedua pipinya. ‘Aw!’ Yupi memekik keras. ‘Aduuuuh, sakit tau.’ Yupi menggelembungkan pipinya. Aku terkekeh. Anak di depanku ini benar-benar menggemaskan.
            
          Drrrt! Drrrt!
          
          Hpku bergetar. Sebuah pesan masuk. Aku lihat nama pengirimnya: George.

“Sudah siap?”

Jari-jariku mengetik cepat keypad di hpku. “Deg-deg’an nih.”

“Aku di row satu. Jangan khawatir, kamu pasti bisa. Berjuanglah.” Belum sempat aku membalas smsnya, hpku bergetar lagi. Dari pengirim yang sama. ‘Lakukan yang terbaik.’

Seutas senyum tiba-tiba terbentuk di wajahku, mengalir begitu saja, tanpa diperintah oleh otakku. Rasanya, bebanku sedikit berkurang. Selalu saja, George berhasil membuatku merasa semangat— sekaligus nyaman.

‘Hayooo, senyum-senyum sendiri.’ Suara Yupi terdengar menggoda. Aku mengalihkan pandangan ke arah Yupi, dan mendapati dia menatapku dengan tatapan nakal. ‘Hayooo… Dari siapa hayo…’

Aku memukul bahu Yupi dengan kesal. Berusaha menahan tawa. ‘Ih, bukan siapa-siapa.’

‘Bohong. Hayooo…. Pipinya sampai memerah begitu.’

Hah? Cepat-cepat aku melirik kaca besar di sebelahku. Benar. Sangat benar, malah. Pipiku memerah. Bukan karena make up. Aku ini kenapa, sih?

Tiba-tiba, tangan Yupi cepat mengambil hp di genggamanku. Dia berlari menjauh, lalu menghadap dinding. Butuh waktu beberapa detik untuk aku tersadar apa yang baru saja Yupi lakukan.

‘YUPIII!!!!!!’ Aku berlari cepat menghampiri Yupi yang sedang mengorek-ngorek isi hpku. Yupi membelakangiku, tangannya menjulur ke depan, sehingga tidak dapat kugapai. ‘Iiiiihhhh, ngapain siiiiihhh!’

‘George. Ciyeee.’ Yupi semakin memanas-manasiku. Melihat kesempatan, aku dengan sigap mengambil hpku dari genggaman Yupi. ‘Hayooo… Siapa hayo…’
            
             Aku salah tingkah. Aduh. Kenapa bisa ceroboh seperti ini?
            
            ‘Yang mana anaknya?’ Yupi bertanya antusias.
            
            Aku mendengus. ‘Ih, mau tau aja.’
            
           ‘Ooohh… gini….’ Raut wajah Yupi seolah meremehkan. ‘Lapor ah, ke kak Balenk.’
           
            Aku menggeleng cepat. ‘JANGAAANNN!!!’
            
            Yupi tertawa. ‘Kalau begitu, cepat ceritakan.’

***

Tolong jangan panggil diriku Idol

Tolong jangan panggil diriku Idol

Walau hanya sebenarnya pacar dalam khayalan

Seorang pangeran yang baik hatinya

Kehadirannya ada dalam hati

Diriku ini selalu melihat kepadamu

Kakiku bergerak lincah seirama dengan musik. Tanganku kesana-kemari, menganyun seirama dengan koreografi. Senyumku terus menerus terpancar sepanjang lagu. Kepalaku mengarah ke kanan-kiri. Tapi, mataku tidak sanggup berhenti untuk terus-terusan melirik George yang duduk di row depan. Jangan tanya kenapa. Aku sendiri tidak tau.

Aku bergerak ke arah depan. Yupi bergerak ke belakang. Ketika kami berpapasan sejajar, tiba-tiba Yupi mencolekku cepat, lalu berbisik. ‘Ciyeee….’
            
            Astaga. Ini sedang perform, woi! Anak ini….. Ya Tuhan. Masih sempat-sempatnya untuk menggodaku barusan.
            
            LA LA LA LA LA

LA LA LA LA LA

Pastilah diriku ini

Bukan se…. orang Idol

Tolong jangan panggil diriku Idol

Tolong jangan panggil diriku Idol

Aku terus bernyanyi dan menari. Dan, mataku tetap saja tak puas-puasnya melirik ke George. George tersenyum padaku. Jarak kami dekat. Hanya terpisahkan beberapa meter. Jantungku berdegup kencang. Nafasku memburu. Perasaanku campur aduk. Aku memperhatikan matanya. Mataku menangkap sebutir air mata mengalir di sudut matanya. Ah, dia menangis?
***
            ‘Kamu hebat!’ George mengacungkan kedua jempolnya, ketika kami bertemu di depan theater jam 12 malam kurang. Mall sudah sepi, tentu saja. Dasar sinting. Menungguku 2 jam lebih keluar dari theater. Aku kira, dia sudah pulang daritadi.
            
              ‘Ah, enggak.’
         
         George tertawa renyah. ‘Kamu selalu begitu. Merendah.’ Tangannya mengacak-acak rambutku dengan gemas. Sontak, aku hendak membalasnya. Dia cepat menghindar, dan aku sukses semakin dibuat kesal olehnya. Kami terlibat kejar-kejaran di F4. Tapi, dia terlalu gesit untuk kulawan. Aku mengejarnya hingga ke F5. Suasana sepi. Yang tedengar hanya langkah kami yang sahut-menyahut. Tidak ada siapapun selain kita berdua di F5.
            
            ‘Hah….hah….hah….’ George akhirnya menyerah, membiarkanku menuntaskan balas dendam. Aku mengacak-acak rambutnya, dan berulang kali menepukkan bahunya dengan kesal.
            
          ‘Kamu itu…. Idol semestinya menjaga image. Bukan seperti ini,’ kata George, ketika kami menyudahi kejar-kejaran ini dan duduk sembarangan di lantai F5.
            
         ‘Diam.’ Napasku masih terengah-engah. Aku menatap matanya dalam-dalam, lalu menyadari sesuatu. ‘Idol, ya? Hahaha.’
            
          George memalingkan muka, lalu menatapku bingung. Aku tersenyum. Perlahan, kepalaku condongkan ke pipinya, lalu mengecupnya halus. Mulutku dekatkan ke telinganya, dan membisikkan sesuatu. ‘Tolong jangan panggil diriku Idol.’
            
          Sementara itu, George di sampingku membeku.

2 komentar:

  1. keren (y) jarang-jarang FF yang ceritanya si "aku" adalah seorang idola tersebut. dari ceritanya terasa ngena banget walau cuma sekedar pembaca, tapi seakan masuk kedalam kisah tersebut *cielah. dan nilai plus untuk FF ini yang beda dari yang lain. overall jempol ron ^^

    BalasHapus