Rabu, 03 Juli 2013

Lies

"Gausah nelpon napa"

Bukan jawaban panggilan telpon darimu yang aku terima, melainkan sebuah pesan singkat itu. Singkat, padat, dan terdengar sinis.

"Kamu kenapa, sih?" Balasku gusar.

1 menit, 2 menit, 3 menit... Aku terus menunggu balasan darimu. Tidak ada balasan sama sekali. Pikiranku semakin kacau. Aku tekan kembali tombol hijau di ponselku.

Tut... Tut...

"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Silahkan coba beberapa saat lagi."

Aku mencengkeram ponselku kuat-kuat, menahan emosi yang rasanya hendak meledak kapan saja. Ini reject yang kesekian kalinya.

"Aku salah apa, sih? Ngomong dong, NGOMONG."

Drrt... Drrt...

"Engga kok, engga ada salah apa-apa hehe"

Ini kebohonganmu yang kesekian kalinya. Aku tau, ada yang salah dengan kita. Tapi, entah apa itu.

"Ngomong..."

"Engga, engga ada apa-apa"

Aku menghela napas panjang. Berusaha untuk mempercayai perkataanmu, atau tidak sama sekali. Antara bingung dan resah. Sedetik kemudian, aku tertawa geli. Betapa kita yang dulu, jauh berbeda dengan kita yang sekarang.

Pertanyaanku sederhana. Aku hanya ingin memastikan bahwa kita baik-baik saja. Itu saja, tidak lebih.

Aku tau. Mungkin saja, kamu punya alasan sendiri untuk menjaga perasaanku. Atau mungkin, memang benar begitu adanya. Atau mungkin, kamu benar-benar membohongiku. Entahlah... Aku sudah bosan menerka-nerka. Bosan menduga-duga. Bosan memperkirakan maksud hatimu.

Kebohongan tetaplah kebohongan, sekecil apapun itu. Bodohnya, aku selalu saja memaafkan setiap kebohonganmu. Jangan tanya alasannya kenapa, aku sendiri tidak tau. Sungguh.

1 komentar:

  1. ah ini... sorry ngestalk, tapi tapi tapi tapi... :'''')))))))

    BalasHapus