Minggu, 16 Juni 2013

Idol Juga Punya Hati

“Apa kau merindukan aku ?”
“Untuk apa kau tanyakan itu ?”
“Aku hanya ingin tau bagaimana perasaanmu saat ini padaku.”
“Pertanyaan konyol”

Dia tertawa renyah mengatakan jawaban terakhirnya di tengah kesibukanku mencari makna dari setiap jawabannya. Ini pertemuanku kedua kalinya setelah saat tak sengaja aku bertemu dengan dirinya di sebuah toko buku di salah satu mall di Jakarta. Saat itu aku hendak mengambil novel yang selama ini kucari, tapi sayangnya dia juga menginginkannya, dan saat itulah tangan kami bertemu untuk kemudian mata kami mencari si pemilik tangan yang tengah memegang novel yang kami perebutkan.
‘Ardan.’ Gumamku lirih kalau-kalau ternyata salah orang. 2 tahun aku tak bertemu dengannya wajar saja, jika mungkin orang yang ada didepanku hanyalah memiliki kemiripan dengan Ardan.
‘Rizki.?’  Balasnya menyebut nama panggilanku sebelum aku tenar seperti ini, hanya beberapa orang terdekat saja yang memanggilku dengan sebutan ‘Rizki’. Yah ternyata benar dia. Kami saling bertatapan, matanya sungguh tak berubah, mata yang dulu selalu kutatap, hanya penampilannya yang sedikit berbeda, dia terlihat lebih rapi dengan balutan kemeja biru dipadu dengan dasi silver, dan celana hitamnya.
 ‘Hey, Pram. Kau sudah menemukan novelnya.?’ Tanya temanku yang lebih suka memanggilku dengan sebutan Pram, daripada Pramita.
‘Ah, emm. Sudah tapi…..’ Jawabku gelagapan setelah dapat menguasai diri dari tatapanku dengan Ardan saat itu.
‘Tapi apa.?’ Tanyanya, aku menoleh ke arah Ardan yang kutau dia juga menginginkannya.
‘Untukmu saja.’ Jawabnya menyerahkan novel itu.
‘Tapii….’  kataku menggantung.
‘Tapi apa ? aku tak terlalu menginginkannya., ambil saja.’ Katanya lagi, akupun menerimanya.
‘Pramita Rizki Cornelia, ayolah. Sebelum kita diketahui banyak orang.’ Lagi temanku mengusikku ketika aku bertatapan dengannya.
‘Aku ingin berbicara banyak denganmu. Aku tunggu Di Cafe Royal besok sore.’Kataku padanya sebelum akhirnya berpamitan.


“Aku serius.” Lanjutku mengubah posisi dudukku sedikit lebih maju.
“Jawabanku pun bahkan tak akan merubah status kita.” Jawabnya santai memainkan sedotan minumannya.
“Setidaknya aku tau perasaanmu, dan aku bisa menjaga hatiku untukmu.” Jawabku terang-terangan.
“Percuma.” Singkatnya membuang pandang ditengah tatapan dalamku untuknya.
Ahh, sikapnya masih saja seperti ini padaku, dia sama sekali tak berubah sejak terakhir kali aku berbincang dengannya, 2 tahun lalu tepatnya.
“Apa kau sama sekali tak merindukan aku.?” Telusurku masih menatapnya, sedikit guratan kecewa paasti terlihat dimataku.
“Jangan tanyakan itu, kau tau pasti aku merindumu di setiap hariku.” Jawabnya menyamai posisi dudukku, hingga jarak kami tak lagi jauh seperti sebelum ini.
“Lalu mengapa kau tak pernah datang di setiap performanceku?” Tanyaku meminta pertanggung jawaban atas jawabannya sendiri.
“Untuk apa?” Dia balik bertanya dan kembali menyandarkan tubuhnya di tempat dia duduk. Gayanya sungguh mengesalkan, seolah meremehkanku.
“Setidaknya kau bisa melepas rindumu, Ar.” Jawabku mencoba tetap santai. Dia sedikit menegakan tubuhnya tapi tetap bersandar di sandaran kursinya.
“Aku merindumu atas nama ‘Pramita Rizki Cornelia’, bukan ‘Pramita’ dengan embel-embel nama tenarmu itu.” Jawabnya memainkan tangannya di meja yang memisahkan posisi duduk kami.
“Tapi mereka sama Ar, dan itu aku.” Jawabku kesal dan menyandarkan tubuhku keras ke sandaran kursiku. Beberapa saat suasana hening, dia tak kunjung berucap, aku pun lelah terus menanyainya. Yah, memang benar katanya. Dia tak layak merindukanku atas nama ‘Pramita’ beserta embel-embel lainnya yang bahkan dia tak pernah mengenalnya, tapi bukankah kami itu sama, ‘Pramita Rizki Cornelia’ dan ‘Rizki’ itu sama saja.
“Hmmh, apa kau sama sekali tak ingin melihat performanceku secara langsung.?” Tanyaku mengalah. Dia menenggak minumannya sedikit.
“Kau pun tak akan tau jika aku hadir.” Jawabnya membuatku semakin kesal saja.
“Aku bisa mencarimu di kerumunan penggemarku.” Jelasku menegakkan posisiku untuk kemudian kembali menyandarkannya.
“Sayangnya kau telah berubah.” Jawabnya menatapku dalam.
“Aku tak pernah merubah diriku, apalagi perasaanku.” Jawabku mengangakat tanganku menunjukan ‘inilah aku’
“Dulu, aku bisa dengan bebasnya menemuimu Rizki, dan sekarang kau minta aku ikut berjejal dikerumunan penggemarmu.” Jelasnya, aku tercengang menatapnya kembali dengan rasa kecewa.
“Apa kau tak mau berjuang demi bertemu untukku ? Bahkan penggemarku rela berpanas-panasan hanya untuk melihat perfomanceku.” Emosiku terpacu karna jawabannya.
“Kalaupun aku harus berjuang, aku lebih memilih hidup tanpa cinta untuk menunggumu daripada harus berjejal bersama mereka yang ingin melihatmu dengan tanpa kepastian darimu.” Jawabnya tak begitu meyakinkan, tapi cukup untuk menurunkan kadar emosiku.
“Tapi mengapa kau sama sekali tak menyapaku, lewat account twitter ku misalnya.” Tanyaku kembali menelusurnya.
“Aku tau pasti ribuan sapaan sudah diucapkan penggemarmu. Sapaanku pun mungkin tak akan terlihat dan menjadi special untukmu, lagi pula kau pun tak akan membalasnya bukan?” Jawabnya seolah membuat titik dalam bahasan ini.
“Oke, lantas mengapa kau sama sekali tak menghubungiku ?” Tanyaku kembali merubah bahasan tadi.
“Aku tak mau mengganggu kesibukanmu.” Jawabnya santai.
“Hey, aku tak setiap waktu sibuk.” Aku mencoba merubah jalan fikirnya.
“Lalu apa aku harus menghubungimu di waktu luangmu, yang bahkan aku pun tak tau kapan itu.” Masih dengan nada santainya dia menjawab pertanyaanku yang seolah hanya pertanyaan remeh.
“Setidaknya kau bisa mengirimku pesan, dan pasti akan kubalas jika aku sudah tak sibuk.” Cobaku lagi.
“Aku hanya tak mau kau lebih mementingkan pesanku daripada waktu istirahatmu.” Lagi dia membuat titik dalam bahasan ini, aku terbungkam lagi dengan jawabannya.
“Lantas, apa ini artinya kau tega membiarkan aku perlahan terkikis rinduku ini?” tanyaku menyimpulkan dari semua jawaban-jawabannya.
“Ini keputusan yang kau ambil bukan.?” Jawabnya sekaligus bertanya, menyindir kurasa. Otakku jadi kembali pada 2 tahun silam.
***
‘Apa yang ingin kau bicarakan, kau terlihat sedih, mengapa kau mengajakku bertemu saat ini.’ Tanyanya begitu aku sampai di tempat janjianku.
‘Aku ingin jujur padamu.’ Balasku tak berani menatap wajahnya.
‘Aku pasti menerima kejujuranku.’ Katanya meraih tanganku dalam genggamannya.
Aku harus ke Jakarta memenuhi panggilan management yang telah mengontrakku untuk menjadi artisnya.’ Ungkapku masih tertunduk, jujur saja. Ini moment terberatku saat aku harus jujur padanya.
‘Ah, baguslah. Ini mimpimu selama ini bukan?’ Jawabnya dengan tampang gembira yang dibuat-buat.
‘Tapi…’ Aku menggantungkan kalimatku, mencoba menatap matanya.
‘Tapi apa ?’ Tanyanya begitu ingin tahu.
‘Tapi dalam managementku, setiap artisnya dilarang memiliki hubungan khusus dengan lawan jenisnya.’ Kataku akhirnya, genggaman tangannya melemah hingga akhirnya tanganku terlepas. Dia membuang pandangnya, menghindar dari tatapanku.
‘Tapi, aku janji tak akan ada cinta lain dalam hatiku.’ Kataku meyakinkannya. Beberapa saat suasana hening, kami saling terdiam.
‘Kau tak perlu berjanji, aku tau itu.’ Ucapnya menyimpan tangannya di pundakku.
‘Kejar mimpimu, aku tau kau sangat menginginkannya. Aku akan menunggumu disini Rizki.’ Lanjutnya dengan senyum khasnya.
‘Benarkah kau merelakanku Ar.?’ Aku memastikannya, menatap matanya dengan pandangan buram tertutup genangan air.
‘Untuk mimpi Ki.’ Jawabnya menebar kembali senyumnya. Aku memeluknya, dan sudah dapat dipastikan genangan air di mataku tumpah juga dipundaknya.
***

“Tapi bukan berarti kau harus membiarkan ku beku karna rinduku.” Elakku atas pernyataannya yang jelas menyindirku.
“Bahkan aku pun menjadi lemah karna rinduku.” Jawabnya sedikit menundukkan kepalanya. Benarkah jawabnya, bahkan dia terdengar sangat melemah. Aku memang kesal dengan nada bicaranya sedari tadi yang seolah terus menyalahkanku. Tapi matanya tak dapat menyembunyikan sebuah binar kebahagiaan dalam hatinya.
“Apa sekarang kau senang bertemu denganku.” Tanyaku memintanya kembali jujur.
“Bahkan aku tak ingin waktu berjalan untuk saat ini.” Jawabnya tak langsung meng’iya’kan tapi cukup untukku membuat kesimpulan perasaannya. Aku menyamankan posisi dudukku menunggunya yang seperti ingin kembali berbicara.
“Bahkan dari semalam aku tak bisa tidur, aku tak sabar menunggu esok datang.” Katanya terang-terangan, cukup menarik ujung bibirku dan mengulaskan sebuah senyuman.
“Aku bahkan sangat bahagia ketika kemarin bisa menatap matamu kembali. 2 tahun aku tak dapat melakukannya, dan saat itu jujur saja aku sangat ingin memelukmu, tapi aku sadar kau saat ini adalah seorang publlic figur yang tidak bisa dengan bebasnya melakukan apa saja di depan umum.”
 “Tapi toh dengan aku melihat kau baik-baik saja pun aku cukup bahagia.” Ungkapnya menerawang hari kemarin, saat kami bertemu di toko buku.
“Ngomong-ngomong, apa kau juga suka novel itu.?” Tanyaku sekaligus menebaknya.
“Tidak.” Jawabnya menggeleng pelan.
“Lantas.?” Keningku berkerut begitu saja mendengar jawabannya.
“Aku tau kau suka novel itu, dan aku berencana membelikannya untukmu dengan uangku sendiri.” Katanya tak berani menatapku.
“Kau bekerja disini.?” Tanyaku mengalihkan.
“Yah, mencari kegiatan lain di kota orang.” Jawabnya enteng kembali memainkan tangannya di meja.
“Dimana ? apa ada yang mau menerima orang sepertimu ?” Gurauku menopang daguku dengan tangan kananku yang kusandarakan di meja yang sama.
“Aku juga tak percaya, direktur di perusahaan tempat kerjaku, mengangkatku menjadi manager.” Jelasnya santai mengatakan jabatannya sebagai seorang ‘manager’ yah kuulang ‘MANAGER’.
“Oh, jadi kau sekarang seorang manager.” Aku mengulangnya kalimatnyaa.
“Yah, setidaknya aku bisa memiliki bekal untuk mimpiku.” Katanya merendah mengulas sedikit senyum.
“Apa mimpimu ?” Aku penasaran dan megangkat tangan kiriku untuk ikut menopang daguku.
“Membawamu ke KUA.” Jawabnya diselingi senyum yang tak dapat kupastikan itu serius atau hanya gurauan.
“Menemuiku pun kau tak mau, apalagi membawaku ke KUA, pengecut kau.” Gurauku dengan tawa ringan membanting lembut tubuhku ke sandaran kursi.
“Kalau aku pengecut, tak mungkin aku menemuimu disini dan menjawab segala pertanyaan konyolmu itu Rizki.” Katanya tersenyum dengan khasnya.
“Itu pun karena aku yang memintamu bukan.” Elakku mendekatkan wajahku.
“Yah, setidaknya jika aku hendak di pukuli managementmu karena beraninya menemuimu di cafe ini aku memiliki alasan karena kau yang mengajakku.”
“Apalagi kalau bukan pengecut namanya.” Sindirku.
“Aku tau segala peraturan yang menghalangimu untuk bertemu denganku Riz.” Katanya sok tau.
“Kita bisa bertemu diam-diam kan seperti ini kan.? Dan pasti tak akan ketahuan managementku.” Usulku.
“Tapi aku bisa mati dikeroyok ribuan penggemarmu.” Jawabnya mencari alasan lain.
“Pandai sekali kau beralasan.” Cibirku memandangnya remeh.
“Oke, tapi apa kau rela aku mati hanya untuk bertemu denganmu, sedangkan masih banyak cara agar kita bisa bersama.?” Tanyanya berhasil mengena di hatiku.
“Aku hanya ingin tau seberapa besar perjuanganmu dan pengorbananmu untukku.” Aku mengutarakan maksudku, menegakkan posisi dudukku, dan meletakkan kedua tangannku di atas meja, bersiap untuk kembali berdebat.
“Apa selama ini perjuanganku tak cukup untukmu ?” Tanyanya mendekatkan wajahnya.
“Perjuangan yang mana?” Tanyaku mempertemukan kedua alis mataku.
“Oke, Bukan aku perhitungan. Tapi apa belum cukup aku menunggumu selama ini, menjaga hatiku untukmu, menolak cinta yang datang menggodaku, menahan rinduku untukmu.?”
“Mungkin itu tak seberapa, tapi apa kau tau perjuanganku menahan kecemburuanku, ketika kau dikelilingi penggemar-penggemarmu yang notabene itu lawan jenismu, ketika mereka menyapamu dengan kata-kata manis mereka, ketika mereka menyatakan rasa sayangnya, dan ketika kau dengan lantangnya membanggakan mereka, ketika kau bersikap manja dengan penggemarmu, mencari perhatian mereka, kau pikir aku tak cemburu.?” Jelasnya agak berbisik dengan posisi tetap seperti tadi.
“Kau memperhatikanku.?” Kembali aku terheran atas jawabannya, bagaimana dia bisa tau semua itu, sedangkan aku tak pernah tau jika sebenarnya dia memerhatikanku.
“Aku tau segala info tentangmu, aku mengikuti setiap kabarmu, aku melihat performancemu lewat layar kaca yang kupunya, aku tak pernah ketinggalan segala tentangmu.” Lanjutnya masih dengan nada bicara santainya.
“Fans layar kaca.” Cibirku. Ah ternyata dia tak jauh beda dengan penggemar-penggemarku yang sering kulihat, tapi yang mengherankan, aku sama sekali tak tau dia turut mencari infoku, aku terlalu buta mungkin (?)
“Hah, aku lebih memilih mengantongi uangku untuk masa depan kita.” Dia menyandarkan kembali tubuhnya.
“Aku tak mau dengan pengecut sepertimu.” Jawabku dengan senyum sinis, yah kurasa begitu.
“Pramita Rizki Cornelia, sayangnya kau mencintaiku sebagai seorang pengecut.” Katanya seraya menegakkan tubuhnya dan meraih tanganku untuk digenggamnya.
“Aku…” Aku hendak berbicara, tapi sepertinya aku bisu mendadak karena genggaman tangannya yang bahkan terasa sangat hangat.
“Aku hanya ingin kau fokus dengan mimpimu, aku sama sekali tak mau jika aku hadir di hidupmu aku akan merusak karirmu.” Katanya memotong kalimatku, dan sekaligus menyelamatkanku dari acara gelagapanku tadi.
“Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menemuimu, aku pun sedang berjuang meraih suksesku. Awalnya aku ke Jakarta untuk bisa menemuimu, tapi akhirnya setelah kufikir-fikir, aku ingin bertemu jika kita sudah sama-sama dewasa dengan tidak mencampurkan urusan cinta dengan karier. Aku ingin terlebih dahulu sukses sebelum menemuimu.” Jelasnya panjang lebar, menatap dalam mataku. Dan sialnya, aku dibuat salah tingkah karena sikapnya.
“Dan sekarang kita bertemu, aku harap kita bisa lebih dewasa.” Lanjutnya diakhiri senyum khas yang kutau itu hanya miliknya.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita sekarang ?” Tanyaku setelah berhasil menguasai diri dari tatapannya.
“Aku akan menunggumu, sampai kau bisa memiliki hubungan denganku, dan aku bisa memilikimu seutuhnya.” 

  1. —End—  (Cule).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar