Rabu, 04 Desember 2013

#FF2in1 Lumpuhkan Ingatanku

Imajinasi; hal berharga yang Tuhan anugerahkan untukku. Bersamanya, aku bisa menjadi apapun; pergi keliling dunia, menjadi Presiden, berwisata ke planet Jupiter, berkendara dengan kecepatan cahaya, bahkan… terus bersamamu.

Tetapi, pada akhirnya kenyataan menamparku. Imajinasi tidak pernah mampu membuatmu untuk menjadi milikku selamanya. Demi Tuhan, sakit rasanya.

Apa imajinasiku ini berlebihan? Apa boleh, aku berharap?

Bicaralah, agar aku mengerti. Bagaimana aku bisa tau letak kesalahanku dimana, kalau kamu tidak berterus terang? Bagaimana aku bisa tau, dimana kesalahan di hubungan kita? Jangan bersembunyi. Jangan tutupi apa yang salah dari kita. Jangan kau kunci rapat hatimu. Ku mohon. 

Kamu berubah, aku tidak mempersalahkannya. Kamu jarang memberi kabar, aku tidak mempersalahkannya. Kamu jalan dengan teman lelakimu yang lain, aku tidak mempersalahkan.

Sakit rasanya, ketika mendapati kamu pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan apapun.

Sungguh, aku mencintaimu. Dan cinta ini tanpa beralasan. Bagaimana pun juga aku memberi alasan, itu bukanlah sesuatu yang benar-benar pas untuk menjelaskan cinta ini untukmu. Ya Tuhan... Sungguh sangat sakit hati ini. Lumpuhkanlah ingatanku Tuhan... supaya aku tidak perlu menanggung beban kesedihan ini.


Sabtu, 23 November 2013

Meet and Greet #Restart

Jam tangan saya menunjukkan pukul 14.05. Berulang kali saya melirik jam tangan, harap-harap cemas. Pukul 2 siang acara Meet and Greet Mbak Nina tentang bukunya yang berjudul "Restart" di Gramedia Tunjungan Plaza dimulai, sedangkan saya masih terjebak macet parah sekitar 5km dari Tunjungan Plaza. Jelas, saya sudah telat. Tapi setidaknya, saya ingin bertemu dengan Mbak Nina walau hanya sebentar. Setelah dalam beberapa kali kesempatan, saya gagal bertemu dengan dia. 

Keberuntungan masih berpihak kepada saya. Setelah mengebut meliuk-liuk melewati kemacetan, saya tiba di lokasi Meet and Greet sekitar 30 menit kemudian. Saya langsung menduduki kursi paling belakang. Dan menyimak perbincangan antara Mbak Nina dan sang MC.

Siang ini Mbak Nina mengenakan pakaian perpaduan biru muda dan biru tua. Menduduki sofa yang berwarna biru juga, Mbak Nina tampak anggun dan berkharismatik. Acara berlangsung dengan obrolan antara Mbak Nina dan MC, serta tanya jawab antara Mbak Nina dan pengunjung Gramedia. Saya sendiri sempat bertanya 2x kepada Mbak Nina. Saya sempat nervous, karena pertama kalinya bertemu penulis favorit saya. Terlebih lagi, di twitter sifat saya seperti kekanak-kanakan tiap kali mention Mbak Nina. Tapi begitulah rasanya, saya bingung mengekspresikan rasa kagum saya kepada Mbak Nina seperti apa.

Acara Meet and Greet ditutup dengan sesi tanda tangan dan foto-foto bareng Mbak Nina. Saya menghardik diri sendiri karena lupa membawa novel Restart kepunyaan saya,  yang sebelumnya sudah saya siapkan di atas meja belajar, namun lupa tidak saya masukkan ke dalam tas saya. Jadilah saya hanya menyodorkan sebuah buku tulis, dan meminta Mbak Nina menuliskan sesuatu disitu. Setelah selesai menuliskan, saya dan Mbak Nina sempat mengobrol sebentar. "Wah, ternyata kamu masih muda banget ya. Aku terharu kalau ada cowok yang beli buku'ku. Err... Maksudnya, cowok selain teman-temanku. Mereka jelas harus dengan terpaksa beli buku'ku, hehe." Lalu, di luar dugaan, Mbak Nina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dan minta foto bareng dengan saya. Saya kaget, jelas. Semestinya saya yang minta foto bareng, bukan malah sebaliknya. Entah apa maksud Mbak Nina, hahaha. Mbak Nina menyodorkan ponselnya kepada temannya. Lalu, teman Mbak Nina mulai membidik kamera ponsel ke arah kami berdua. Saya hanya pose canggung ala kadarnya. Entah bagaimana hasilnya. Yang pasti, hasil foto tersebut saya yakin saya tampak seperti jelangkung yang berdiri bersebelahan dengan barbie. "Nanti aku tag ya ke twitter kamu," kata Mbak Nina.

Setelah mengobrol sebentar lagi, saya pamit untuk pulang. Sambil berjalan turun dari eskalator, saya membuka buku yang saya sodorkan ke Mbak Nina tadi.


"Dear Roni,

Terimakasih sudah datang! 
 Terimakasih sudah baca Restart. Semoga punya kisah cinta yang happily everafter juga.

Semoga sukses Olimpiade nya!

xoxo


Nina Ardianti "



Begitu tulis Mbak Nina pada buku saya. Lantas, saya senyum-senyum sendiri. Dalam hati, saya mengamini doa Mbak Nina.

Thanks, Mbak Nina. Terimakasih banyak untuk Novel Restart nya yang sangat menginspirasi. Terimakasih banyak untuk keramahannya, hehe. Semoga sukses terus. Saya tunggu karya-karya selanjutnya! :D


Idol Nante Yobenaide

‘Kamu datang!’ Aku memekik senang ketika melihat George duduk sendiri di F5. Aku cepat-cepat mengambil tempat di depannya, lalu menaruh tasku sembarangan.

Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, menaikkan alis sedikit, lalu melemparkan senyum. ‘Tentu saja.’

Aku membalas senyumnya. Mataku mulai menjelajah memperhatikan wajah dan penampilannya. Astaga. Wajahnya ternyata tidak seburuk yang selama ini kulihat di akun-akun sosmednya. Dari yang ku tau selama ini, dia berkulit lebih hitam dari apa yang kulihat langsung sekarang ini. Masa’ dia perawatan, sih?

George Sastromihardjo, seorang Indo-Amerika. Dia lahir di Indonesia, tapi semenjak kecil pindah ke Amerika, dan baru kembali ke Indonesia 2 hari yang lalu. Mamanya keturunan Prancis, Papanya keturunan Solo asli. Perpaduan yang terlalu mencolok, menurutku. Asal kalian tau, selama 15 tahun di Amerika tidak membuat George berkulit putih layaknya anak bule yang lain. Aku sering men-stalk foto-fotonya di akun sosmednya. Maaf saja, bukannya aku murahan. Tapi, sungguh. Aku benar-benar dibuat penasaran oleh dia seperti apa orangnya. Dia sosok yang misterius, sekaligus menyenangkan. Ini pertemuan kami yang pertama kali secara langsung. Sebelumnya, kami sering berkomunikasi lewat dunia maya. Kami berkenalan sekitar setahun lebih yang lalu, ketika 3 bulan sebelum audisi generasi ke-1 JKT48. Awalnya kami hanya berteman biasa, teman chatting. Setelah gagal lolos audisi, aku ngedrop. Seminggu lebih aku sakit parah. Mamaku saja bingung bagaimana membuat semangatku untuk bangkit lagi. Tapi, entah dengan sihir apa, George bisa menumbuhkan semangat hidupku. Lewat sebuah chatting panjang. Dan pada akhirnya, aku bisa berada disini. Sebagai embel-embel member JKT48 generasi ke 2. Secara tidak langsung, bagiku, George sudah berpengaruh besar hingga aku mendapatkan titel ini.

‘Kamu perform show ke berapa nanti?’ tanya George, membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak, gelagapan. ‘Oooh… oh…. Show ke-2.’ Goblok. Kenapa aku bisa sampai melamun memperhatikan dia barusan?
            
          George tidak menjawab. Dagunya naik sedikit, kepalanya mengangguk-angguk. Lalu, ada jeda hening yang cukup lama. Aku bingung mau memulai obrolan darimana. Kecanggungan menyeruak diantara kita. Sialan.
            
        ‘Menang tiket theater show ke-2?’ tanyaku. Lagi, George tidak menjawab. Hanya menggeleng kecil. Aku mengernyitkan dahi. ‘Lalu?’
           
          Cowok di depanku ini menaikkan bahunya. ‘WL, mungkin.’
           
          Aku tersenyum menyeringai. Tanganku mengepal ke udara. ‘Good luck.’

Mataku beralih menyapu pandangan di sekelilingku, dan baru menyadari satu hal. Banyak wota-wota yang sedang memperhatikan kami yang sedang duduk berdua berhadapan, di samping kedai Bakso Malang. Aku menatap mereka satu per satu, dan sedetik kemudian mereka seperti salah tingkah, lalu berpura-pura sedang tidak melihat kami lagi. Sial, ini bisa jadi gossip yang tidak-tidak.
***
15 menit lagi show dimulai. Aku bolak-balik menggosokkan kedua tanganku yang tiba-tiba terasa dingin. Nervous. Aku gugup. Hari ini adalah Shonichi setlist kedua tim trainee, Boku no Taiyou. Jujur saja, aku takut kalau sampai di panggung tiba-tiba aku ngeblank. Terutama, saat sesi MC. Bisa-bisa, aku pecicilan tidak karuan karena saking gugupnya. Itu hal terbesar yang aku takutkan. Aku takut, fans-fans jadi ilfeel terhadapku.
            
      ‘Ini, bandonya.’ Yupi menyodorkan sebuah bando kepadaku. Aku menghentikan gosokan, meraih bando di tangan Yupi. ‘Gugup?’
          
         Aku menghela napas. ‘Iya...’
           
     Yupi tersenyum. Pipinya mengembang. Menggemaskan. ‘Semua akan baik-baik saja.’ Tangannya menepuk pundakku. Aku membalasnya dengan mencubit kedua pipinya. ‘Aw!’ Yupi memekik keras. ‘Aduuuuh, sakit tau.’ Yupi menggelembungkan pipinya. Aku terkekeh. Anak di depanku ini benar-benar menggemaskan.
            
          Drrrt! Drrrt!
          
          Hpku bergetar. Sebuah pesan masuk. Aku lihat nama pengirimnya: George.

“Sudah siap?”

Jari-jariku mengetik cepat keypad di hpku. “Deg-deg’an nih.”

“Aku di row satu. Jangan khawatir, kamu pasti bisa. Berjuanglah.” Belum sempat aku membalas smsnya, hpku bergetar lagi. Dari pengirim yang sama. ‘Lakukan yang terbaik.’

Seutas senyum tiba-tiba terbentuk di wajahku, mengalir begitu saja, tanpa diperintah oleh otakku. Rasanya, bebanku sedikit berkurang. Selalu saja, George berhasil membuatku merasa semangat— sekaligus nyaman.

‘Hayooo, senyum-senyum sendiri.’ Suara Yupi terdengar menggoda. Aku mengalihkan pandangan ke arah Yupi, dan mendapati dia menatapku dengan tatapan nakal. ‘Hayooo… Dari siapa hayo…’

Aku memukul bahu Yupi dengan kesal. Berusaha menahan tawa. ‘Ih, bukan siapa-siapa.’

‘Bohong. Hayooo…. Pipinya sampai memerah begitu.’

Hah? Cepat-cepat aku melirik kaca besar di sebelahku. Benar. Sangat benar, malah. Pipiku memerah. Bukan karena make up. Aku ini kenapa, sih?

Tiba-tiba, tangan Yupi cepat mengambil hp di genggamanku. Dia berlari menjauh, lalu menghadap dinding. Butuh waktu beberapa detik untuk aku tersadar apa yang baru saja Yupi lakukan.

‘YUPIII!!!!!!’ Aku berlari cepat menghampiri Yupi yang sedang mengorek-ngorek isi hpku. Yupi membelakangiku, tangannya menjulur ke depan, sehingga tidak dapat kugapai. ‘Iiiiihhhh, ngapain siiiiihhh!’

‘George. Ciyeee.’ Yupi semakin memanas-manasiku. Melihat kesempatan, aku dengan sigap mengambil hpku dari genggaman Yupi. ‘Hayooo… Siapa hayo…’
            
             Aku salah tingkah. Aduh. Kenapa bisa ceroboh seperti ini?
            
            ‘Yang mana anaknya?’ Yupi bertanya antusias.
            
            Aku mendengus. ‘Ih, mau tau aja.’
            
           ‘Ooohh… gini….’ Raut wajah Yupi seolah meremehkan. ‘Lapor ah, ke kak Balenk.’
           
            Aku menggeleng cepat. ‘JANGAAANNN!!!’
            
            Yupi tertawa. ‘Kalau begitu, cepat ceritakan.’

***

Tolong jangan panggil diriku Idol

Tolong jangan panggil diriku Idol

Walau hanya sebenarnya pacar dalam khayalan

Seorang pangeran yang baik hatinya

Kehadirannya ada dalam hati

Diriku ini selalu melihat kepadamu

Kakiku bergerak lincah seirama dengan musik. Tanganku kesana-kemari, menganyun seirama dengan koreografi. Senyumku terus menerus terpancar sepanjang lagu. Kepalaku mengarah ke kanan-kiri. Tapi, mataku tidak sanggup berhenti untuk terus-terusan melirik George yang duduk di row depan. Jangan tanya kenapa. Aku sendiri tidak tau.

Aku bergerak ke arah depan. Yupi bergerak ke belakang. Ketika kami berpapasan sejajar, tiba-tiba Yupi mencolekku cepat, lalu berbisik. ‘Ciyeee….’
            
            Astaga. Ini sedang perform, woi! Anak ini….. Ya Tuhan. Masih sempat-sempatnya untuk menggodaku barusan.
            
            LA LA LA LA LA

LA LA LA LA LA

Pastilah diriku ini

Bukan se…. orang Idol

Tolong jangan panggil diriku Idol

Tolong jangan panggil diriku Idol

Aku terus bernyanyi dan menari. Dan, mataku tetap saja tak puas-puasnya melirik ke George. George tersenyum padaku. Jarak kami dekat. Hanya terpisahkan beberapa meter. Jantungku berdegup kencang. Nafasku memburu. Perasaanku campur aduk. Aku memperhatikan matanya. Mataku menangkap sebutir air mata mengalir di sudut matanya. Ah, dia menangis?
***
            ‘Kamu hebat!’ George mengacungkan kedua jempolnya, ketika kami bertemu di depan theater jam 12 malam kurang. Mall sudah sepi, tentu saja. Dasar sinting. Menungguku 2 jam lebih keluar dari theater. Aku kira, dia sudah pulang daritadi.
            
              ‘Ah, enggak.’
         
         George tertawa renyah. ‘Kamu selalu begitu. Merendah.’ Tangannya mengacak-acak rambutku dengan gemas. Sontak, aku hendak membalasnya. Dia cepat menghindar, dan aku sukses semakin dibuat kesal olehnya. Kami terlibat kejar-kejaran di F4. Tapi, dia terlalu gesit untuk kulawan. Aku mengejarnya hingga ke F5. Suasana sepi. Yang tedengar hanya langkah kami yang sahut-menyahut. Tidak ada siapapun selain kita berdua di F5.
            
            ‘Hah….hah….hah….’ George akhirnya menyerah, membiarkanku menuntaskan balas dendam. Aku mengacak-acak rambutnya, dan berulang kali menepukkan bahunya dengan kesal.
            
          ‘Kamu itu…. Idol semestinya menjaga image. Bukan seperti ini,’ kata George, ketika kami menyudahi kejar-kejaran ini dan duduk sembarangan di lantai F5.
            
         ‘Diam.’ Napasku masih terengah-engah. Aku menatap matanya dalam-dalam, lalu menyadari sesuatu. ‘Idol, ya? Hahaha.’
            
          George memalingkan muka, lalu menatapku bingung. Aku tersenyum. Perlahan, kepalaku condongkan ke pipinya, lalu mengecupnya halus. Mulutku dekatkan ke telinganya, dan membisikkan sesuatu. ‘Tolong jangan panggil diriku Idol.’
            
          Sementara itu, George di sampingku membeku.

Pajama Drive



Brak!

Aku tersentak kaget. Membuat susu yang sedang ku minum tumpah mengenai piyama ku. Ku tutup buku yang sedang kubaca dengan cepat, lalu menyapukan mataku ke penjuru kamar. ‘Apaan sih?’ gumamku heran.

Brak!
Aku menoleh ke arah jendela kamar, menyadari sumber suara itu berasal dari sana. Aku bergidik merinding, pikiranku mulai diselimuti hal-hal yang tidak enak.

Brak!

‘IIIIIHHHHHH, APAAN SIH?!’ Aku bangkit dengan cepat, lalu menghampiri jendela kamarku yang terbuat dari kayu dan membukanya.

‘Shan. Sssttt!!!’ Seseorang memanggilku dari bawah. Aku melihat ke arah bawah dari jendela kamar, dan mendapati Ron sedang menengadahkan kepalanya ke atas melihat ke arahku.

‘Ron? Ngapain?’ Aku memasang wajah bingung.

Tangan kanan Ron bergerak ke kanan-kiri dengan cepat. ‘Turun sini!’

‘Hah?’ Aku semakin tidak mengerti.

‘Cepat!’

Aku mengernyitkan dahi. Aku melirik ke jam dindingku, pukul 23:24.

‘Ayo, Shan. Tunggu apalagi? Cepat turun!’

‘Ada apa sih?’

‘Nanti saja aku jelaskan. Cepat turun!’

***

Pajama de doraibu

Dengan sinar bulan

Sebagai petunjuknya

Dari jam segini

Kemana’ kan pergi

Kencan yang rahasia



Jam tangan digital’ku menunjukkan pukul 23:48.

Di sebelah kananku, Ron memacu mobil dengan kencang. Aku tidak habis pikir, kenapa aku sekarang bisa  berada di dalam mobil berdua dengan seorang cowok. Semestinya sekarang aku sedang bobok cantik diatas tempat tidurku. Maaf saja ya, bukannya aku cewek murahan atau bagaimana. Ini pertama kali aku keluar rumah pada jam tengah malam dengan seorang cowok. Otakku berkata untuk tidak menuruti apa kemauan Ron, tapi hatiku berkata sebaliknya. Aku hendak menolak, tapi… Entahlah. Otakku seperti terbius, tidak bisa berpikir secara jernih. Yang ku lakukan malah tidak sesuai perintah otakku. Jadilah sekarang aku berada di mobil bersama Ron.

‘Pakai sabuk pengamannya.’ Suara Ron memecahkan keheningan.

‘Emang kita mau kemana?’

‘Ke restoran,’ jawab Ron singkat.

‘Haaaaaaahh???’ Aku melongo parah. Ke restoran? Tengah malam begini? Dengan pakaian yang sedang ku kenakan saat ini? Emangnya, tidak ada hari lain apa?

Drrt… Drrt…

Ponsel di saku’ku bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Aku keluarkan ponselku dari dalam saku, lalu melihat nama penelponnya: Papa. Aduh…

Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan telepon dari Papa. Aku takut. Memang sih, aku salah. Pergi keluar rumah tengah malam begini tanpa pamit Papa atau Mama. Ditambah lagi, dengan seorang cowok. Kalau Papa tau, bisa-bisa marah besar.
***

‘Mau pesan apa?’ tanya Ron, ketika kami duduk berhadapan di dalam restoran.

‘Hmmm… Sama kayak kamu aja deh.’

‘Oke,’ kata Ron. Dia mengalihkan pandangannya kepada pelayan restoran. ‘Nasi ramen dua ya mbak. Dua orange juice, sama…’ Ron mengehentikan omongannya, lalu menoleh ke arahku. ‘Kamu mau chocolate coffe juga?’

Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil. ‘Boleh.’

‘Sama dua chocolate coffe ya mbak,’ kata Ron kemudian. Mbak-mbak pelayan itu mencatat pesanan Ron dengan cepat, lalu berjalan ke arah kasir.

Aku menghela napas panjang. Mataku menyapu pandangan ke sekeliling. Orang-orang di sekelilingku menatapku aneh. Wajar. Aku masuk ke dalam sebuah restoran dengan pakaian piyama yang… terlihat bodoh. Salah apa aku Tuhan, pacarku tiba-tiba aneh seperti ini?

‘Kamu ngapain sih bawa aku ke tempat seperti ini?’

Ron mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata, ‘Enggak. Gapapa. Kangen aja. Tiba-tiba pengen ketemu kamu.’

Aku tersenyum, lalu menggeleng kecil. ‘Ron… Kayak besok udah kiamat aja. Kan masih ada besok bisa ketemu…’

‘Kalau malam ini aku mati, gimana?’

Aku mengernyitkan dahi. ‘Kok kamu mikirnya gitu sih?’

‘Ya….’ kata-kata Ron menggantung. Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, pelayan restoran datang membawakan pesanan.

‘Silahkan.’ Pelayan itu menyodorkan sebuah kue bercorak pink, lengkap dengan angka 17 di atasnya.

‘Loh, emangnya kamu pesan kue, Ron?’ tanyaku.

‘SELAMAT ULANG TAHUN!’

Toeeet.. Toeeet..

Aku menutup kedua telingaku saking kerasnya bunyi terompet dari belakangku. Suasana yang tadinya sepi, tiba-tiba jadi ramai. Hal yang terjadi berikutnya adalah papa, mama, kakak bergantian mengucapkan selamat kepadaku, mengecup pipiku, dan heboh sendiri membuat seisi restoran bising. Bodoh, memang. Aku bisa lupa dengan hari ulang tahunku sendiri. Sementara di hadapanku, Ron hanya diam sambil tersenyum memperhatikan kelakuan keluarga’ku. Dasar… Aku yakin, ini pasti semua rencana Ron. Aku dikerjain. Sialan.
***
Pagi ini, aku sibuk mempersiapkan perayaan ulang tahun Ron. Aku membuat kue ulang tahun bercorak biru, warna kesukaan Ron, yang di dominasi dengan rasa cokelat. Aku berjanji pada Ron saat makan bersama dengan keluargaku setelah surprise ulang tahunku, aku akan membalas perbuatannya di ulang tahunnya kelak. Aku mempersiapkan segalanya. Sore hari aku tertidur setelah membereskan semuanya, dan terbangun ketika pukul 11 malam. Cepat-cepat aku berbenah diri, mendandani diriku sendiri secantik mungkin untuk hari besar ini. Setelah siap, aku keluar rumah melalui jendela kamarku, persis seperti kejadian dulu.
Pukul 23:48 aku tiba di restoran yang sama saat Ron membawaku kemari di ulang tahunku yang ke-17. Aku masuk ke dalam restoran, dan mengambil duduk di tempat yang sama seperti dulu. Aku membooking tempat duduk ini sebulan yang lalu, spesial untuk perayaan hari besar ini. 

Pukul 23:59. Aku mengeluarkan kue ulang tahun Ron, dan memasangkan lilin angka di atasnya, lalu menyalakan api. 

Tepat pukul 00:00, menandakan hari telah berganti. Menandakan mulainya hari besar ini, bagiku. Aku berbisik, ‘Selamat ulang tahun yang ke-28, Ron. Aku harap, kamu selalu bahagia disana. Jaga diri baik-baik ya. Selalu, aku akan menyayangimu…’

Aku meniup lilin ulang tahun Ron, lalu mengucap doa dalam hati. Ini sudah ke-10 kalinya aku melakukan ini. Kecelakaan yang menimpa Ron setelah pulang dari restoran ini 10 tahun silam, membuat hatiku hancur sehancur-hancurnya. Kabar duka itu mengejutkanku tiba-tiba, ketika di pagi hari aku terbangun dengan boneka pemberian Ron di ulang tahunku yang ke-17. Aku shock. Perasaanku hancur. Aku terlarut sedih yang sangat dalam. Aku… 

Ku potong kue ulang tahun Ron, lalu kumakan sendiri bagian yang kupotong itu. Manis, bercampur asin. Bukan. Bukan karena aku sengaja memberi rasa asin di dalam kue yang kubuat sendiri. Melainkan, karena bercampur dengan air mata yang jatuh tak terbendung.

Rabu, 04 September 2013

FF: Dia- Maliq & D' Essential.

Kami duduk sembarangan di taman. Beralaskan bumi, beratap bintang. Ditemani dengan 2 buah es krim yang hampir cair.

“Kamu tau...” aku menghentikan adukanku pada es krim. Mataku menatap lurus keatas.

Viny menoleh ke arahku. “Kenapa?”

“Aku kangen masa-masa beberapa tahun yang lalu. Saat tanggungan terberat dalam hidup kita hanyalah setumpuk PR. Saat ujian terberat adalah belajar keras untuk ulangan umum. Tapi sekarang... Kenapa semuanya bisa berjalan begitu cepat?”

Viny meraih tangan kiriku, menggenggamnya erat. Lalu menyenderkan kepalanya pada bahuku. “Ini lah hidup. Waktu berjalan cepat, tanpa bisa kita hentikan. Selama ada kamu di sampingku, aku menikmati hidup ini sedemikian rupa.”

Aku menatap mata Viny dalam-dalam. Mata yang teduh, menawarkan ketenangan sendiri saat menatapnya. Lekuk wajahnya membentuk paras cantik yang luar biasa. Sudah bertahun-tahun aku memandangnya, tapi tidak pernah bosan.

“Emang kenapa tiba-tiba kamu kepikiran seperti itu?” tanya Viny.

Aku menghela napas panjang. “Enggak, gapapa. Tiba-tiba saja kepikiran begitu.”


Viny tersenyum kepadaku. Senyum yang sama, tapi selalu sukses membuatku tersipu malu. Senyum yang aku tau sangat tulus. Senyum yang aku harap, bisa aku lihat selalu hingga akhir hidupku.

FF: Tiba-tiba Cinta Datang Kepadaku- Maudy Ayunda.

“Ciyeee...” Adit yang duduk di sebelahku, dengan nada menggoda menyikut lenganku.

Aku menoleh ke arah Adit, merasakan pipiku tiba-tiba berubah warna menjadi kemerah-merahan. Salting. 

“Apaan sih, Dit?”

Adit tertawa kecil. “Halah, enggak usah pura-pura enggak tau. Gue perhatiin daritadi, lu curi-curi pandang ke Viny.”

Aku tidak menjawab lagi perkataan Adit, hanya membalasnya dengan senyum kecut. Dadaku terasa sesak. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini.

“Udahlah, bro...” Adit menepuk pundak’ku dengan perlahan. “Waktunya lu move on. Semua orang pernah patah hati, all you have to do is move on.”

Aku menggangguk kecil, lalu menghela napas panjang.

***

“Vin...”

Viny yang terlihat asik dengan laptopnya, mengalihkan pandangannya ke arahku. “Iya?”

Mataku memicing sejenak. Sialan, wajahnya terlihat sangat silau. Cantik sekali. Dadaku bergetar hebat. “Nggg, boleh minta no hapemu? Atau line, whatsapp, atau semacamnya?”

Viny menggangguk. “Boleh...”

Aku tersenyum “Thanks ya. “


Viny membalas senyumanku. Gila. Anggun sekali. Sepertinya, hatiku mulai terjangkit virus. Virus yang berbentuk hati.