Jumat, 06 Januari 2012

Love Story , Wedding Dress

Hari ini 18 Mei. Tepat di hari ulang tahunku. Dan sekarang aku sudah rapi dengan setelan tanpa jas (kemeja putih dengan celana, vest dan dasi hitam) yang melekat pas di badanku, juga sepatu hitam mengkilat yang pas dengan setelanku. Aku berkaca sebentar. Tidak ku sadari sebelumnya bahwa sebenarnya aku ini tampan. Haha..bukannya ingin sombong, tapi memang benar kan?
Tapi seharusnya hari ini aku tidak bisa bercanda. Aku tidak bisa bersenang-senang meski hari ini ulang tahunku. Dan aku berdandan serapi ini bukan untuk acaraku. Tapi untuk acara temanku. Tepatnya, aku akan datang ke pernikahan mereka.
Terserah kalian mau bilang aku ini teman yang tidak baik atau semacamnya, tapi jujur, aku tidak suka dengan pernikahan mereka. Andai saja saat itu aku bisa lebih cepat dari Sang Wook, yang menikah hari ini pasti adalah aku. Ya sudahlah, lagi pula aku tidak bisa membalikkan waktu seperti membalikkan jam pasir yang ada di atas mejaku itu.
Jam pasir..aku lihat di sebelahnya, ada sebuah kotak warna putih. Aku ambil kotak itu dan membukanya, sebuah cincin dengan satu mata berlian di atasnya berada di sana. Aku mengambilnya, memandangi benda itu sebentar, sesaat hatiku sakit dan perasaanku tercabik. Namun aku tidak bisa berlama-lama, Sang Wook dan Seung Hee pasti sudah menungguku.
Aku kantongi cincin itu tanpa kotaknya. Lalu aku ambil buku musikku yang sudah aku siapkan tadi dan segera pergi.
***

Tempat pernikahannya sudah ramai, meski acara baru akan di mulai setengah jam lagi. Tanpa berlama-lama aku masuk ke dalam gedung, aku ingin menemui calon pengantin terlebih dahulu.
Aku lihat ruang rias pengantin wanita terbuka, dan Seung Hee sedang berkaca di sana dengan gaun putihnya. Ia tampak bahagia. Aku tersenyum, aku juga jadi ikut bahagia melihatnya. Sesaat, perasaan sakit hatiku menghilang.
“Yong Bae!” serunya, ia melihatku dari cermin. Aku tersenyum padanya. Ia lalu berbalik dan keluar dari ruang riasnya. “Kau datang!”
“Tentu saja!” jawabku masih dengan senyumku. Entah kenapa aku tidak bisa menunjukkan rasa sedihku di hadapannya. “Gaunmu indah sekali! Kau tampak cantik memakai ini!”
Gomaweoyo!” katanya. Ia terlihat benar-benar senang, sampai tidak bisa berkata-kata. Ia hanya tersenyum, kemudian tertawa-tawa kecil di hadapanku.
“Oi..Yong Bae! Tidak seharusnya kau menganggu pengantinku!” kata seseorang tiba-tiba. Aku menoleh, Sang Wook berdiri di sana sambil tersenyum nakal. Sesaat, hatiku langsung hancur melihatnya. Tapi aku tidak mau menghancurkan saat bahagia dari kedua sahabatku. Aku harus tegar. Demi mereka, dan aku.
“Hai!” kataku membalasnya. Kami bertepuk, kemudian bersalaman. “Selamat ya! Akhirnya kalian menikah!”
Gomaweo!” katanya. “Jangan lupa, nyanyikan lagu yang indah untuk kami nanti! Tolong jangan rusak acara kami! Hahaha..aku bercanda!”
“Tenang saja! Aku tidak akan mengecewakanmu!” kataku. Ia tersenyum.
“Seung Hee, kita harus segera bersiap!” kata Sang Wook pada gadis dengan gaun putih di hadapanku itu. Seung Hee mengangguk. Sang Wook lali menggandengnya dan membawanya pergi dari hadapanku. “Sampai jumpa Yong Bae! Buat acara kami menyenangkan dengan suaramu!”
Aku hanya menjawab dengan senyum dan anggukan kecil, kemudian berbalik pergi. Aku harus segera mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri untuk penampilanku. Tapi yang lebih penting lagi mempersiapkan diri untuk melihat gadis yang aku cintai di nikahi oleh orang lain.
Hah..poor you, Dong Yong Bae..
***

“Tebak siapa aku?” goda seseorang setelah menutup mataku. Tangan lentik dan lembut ini, aku tahu siapa dia. Tapi aku berpura-pura tidak tahu dan mencoba menerka saja.
“Nenek ya?” kataku asal.
“Apa maksudmu nenek?” protesnya seraya melepaskan tangannya dan mendorong bahuku ke depan dengan kesal. Aku terkekeh.
“Aku sudah tahu itu kau! Dan aku juga tahu cara tercepat membuatmu melepaskan tanganmu!” jawabku. Ia lalu duduk di sebelahku. “Mana Sang Wook?”
“Dia akan datang sebentar lagi!” jawabnya. “Kau tidak..menari?” tanya Seung Hee sambil menggerak-gerakkan badannya. Aku tertawa melihatnya. Dia wanita, tapi badannya kaku sekali.
“Hari ini latihan libur!” jawabku. “Ah, tapi aku mau menunjukkan sesuatu!”
Aku mengeluarkan ponselku, lalu memperlihatkan rekaman video. Video dance ku sambil menyanyikan lagu yang baru aku buat. Seung Hee mendengarkan suaranya melalui headset.
Kalau melihat wajahnya saat ini, makin menguatkan hatiku. Aku jadi semakin tahu bahwa aku menyukainya.
Aku, Baek Seung Hee dan Ryu Sang Wook, adalah teman sejak kami berada di sekolah dasar. Dan Seung Hee lah yang membuat kami bertiga bersahabat sampai sekarang. Ia yang meminta berkenalan dulu denganku, kemudian dia mengenalkanku pada Sang Wook yang pendiam sekali saat itu. Dan sampai sekarang, kami selalu bersama-sama. Setiap hari kami menyempatkan diri untuk berkumpul bertiga. Sampai aku merasa, kami bertiga adalah saudara.
Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan sesuatu yang lain jika sedang bersama Seung Hee. Aku menyayanginya, tapi tidak seperti sebelumnya. Lebih tepatnya, aku jatuh cinta padanya. Dan sekarang, aku makin menyadarinya, perasaanku ini tidak main-main dan bukan hanya perasaan yang bersifat sementara.
“Keren sekali!” seruan Seung Hee membuyarkan lamunanku tentang dirinya. Ia lalu memandangku, aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. “Kau berbakat, Yong Bae! Kenapa kau tidak ikut audisi bakat saja?”
“Mungkinkah aku akan sukses?” tanyaku padanya. Seung Hee mengangguk mantap.
“Kau pasti sukses! Kau berbakat sekali!” katanya. Aku tersenyum, lalu mengacak rambutnya pelan.
Beberapa detik kemudian Sang Wook datang sambil memutar-mutar kunci mobil di telunjuk kanannya. “Aku melewatkan sesuatu?” katanya pada kami.
“Banyak sekali!” jawab Seung Hee menggoda.
Sang Wook terkekeh. Dan kami melanjutkan obrolan sampai larut.


“Na..nanana..na..” aku berdendang sedikit sambil membaca buku musikku saat sedang istirahat latihan dance. Sepertinya yang lain memperhatikanku. Aku menoleh ke arah mereka.
“Akhir-akhir ini kau keliahatan bahagia sekali?” tanya Seung Hyun, salah satu teman berlatih dance ku. Aku hanya tersenyum. “Baek Seung Hee-ssi?”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku heran.
Tiba-tiba ia menunjukkan ponsel warna putih, dan di layarnya terlihat e-mail dari Seung Hee. Yang lain tertawa melihatnya. Aku segera merebut ponsel itu dan membacanya. Aku tidak sadar kalau sejak tadi Seung Hee mengirimkan e-mail padaku. Bahkan aku tidak mendengar deringnya.
“Seung Hee-ssi itu yang sering kau ceritakan?” tanya Ji Yong, temanku yang lain lagi. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
“Cepat nyatakan saja! Dari pada nanti keduluan orang, hyung!” kata Seung Ri seraya mendekatiku dan menepuk bahuku.
“Kau anak kecil diam saja!” kataku asal. Terus terang, saat itu aku malu sekali.
“Tapi Seung Ri benar, hyung! Kalau tidak cepat kau nyatakan, bisa-bisa keduluan orang lain!” bela Dae Sung. Yang lain mengangguk setuju. Tapi, memang ada benarnya juga sih. “Yong Bae hyung bilang kan gadis itu cantik! Pasti tidak hanya hyung yang suka padanya!”
“Begitu ya?” tanyaku ragu. Tapi mereka mengangguk.
“Fighting!” tambah Seung Ri sambil mengepalkan tangannya. Aku mengangguk sambil tersenyum dan memandang layar ponselku. Aku akan membalas e-mail Seung Hee, dan membuat janji dengannya untuk bertemu.


Aku kayuh sepedaku menuju tempat dimana Seung Hee janjian denganku. Kami janjian bertemu tak jauh dari tempat latihanku.
Aku melihatnya, Seung Hee sudah ada di sana. Ia juga melihatku, kemudian melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya, kemudian mempercepat laju sepedaku ke arahnya.
Aku jatuhkan sepedaku asal, kemudian berlari ke arah Seung Hee dan duduk di sebelahnya. “Baru pulang menari?” tanya Seung Hee sambil menggerak-gerakkan badannya dengan kaku, kemudian tersenyum lebar.
Neh!” jawabku. Ia tertawa. “Kenapa tertawa?”
“Tidak!” jawabnya. “Ada apa kau menyuruhku kemari? Sang Wook tidak ikut?”
Aku menggeleng. Kami terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus basa-basi apa dengannya kali ini. Sepertinya aku memang tipe orang yang tidak bisa basa-basi. Aku ingin langsung menyatakannya, tapi mulutku ini seperti memiliki kunci otomatis yang akan menutup jika aku berniat menyatakan perasaanku.
“Kenapa diam?” tanya Seung Hee. “Sebenarnya ada apa sih? Katakan saja! Sedang ada masalah?”
“Tidak!” jawabku cepat. “Aku hanya..sulit untuk mengatakannya!” aku jadi bingung sendiri. Dan sekarang aku juga tidak bisa memandangnya seperti biasanya. Sungguh berat.
“Sudah katakana saja!” kata Seung Hee dengan senyumnya. Dan itu makin membuatku kehabisan kata-kata. Aku grogi.
“Mengatakan apa?” seseorang tiba-tiba menyerobot pembicaraan kami. Sang Wook, tiba-tiba ia ada di belakang kami sambil tersenyum lebar. Ia lalu duduk di sebelah Seung Hee kemudian merangkulnya. “Kenapa kalian tidak mengabariku? Aku sedang bosan di rumah tau!”
Aku hanya tersenyum kecil. Aku jadi merasa, Sang Wook selalu merusak momen menyenangkanku bersama Seung Hee.
“Ah, kalau begitu, aku pulang dulu!” kataku seraya berdiri dan membersihkan celanaku yang terkena tanah dan rumput.
“Kenapa cepat sekali?” Tanya Sang Wook. “Bahkan kita belum bersenang-senang!”
“Aku ada sedikit urusan!” jawabku. “Sudah ya! Aku pulang dulu! Lain kali kita main lagi! Dah!”
Dan aku segera mengayuh sepedaku menjauhi mereka.
“Kenapa dia?” Tanya Sang Wook. Seung Hee menggeleng pelan.


Saengil chukka hamnida!!” seruku. Seung Hee tampak senang sekali, ia mengamati kue coklat kecil yang aku bawa. Ia tersenyum lebar, kemudian memandangku.
Gomaweoyo!” katanya. Aku mengangguk kecil.
“Maaf..tapi aku hanya bisa memberimu ini!” kataku. Dia tersenyum lebar.
“Kau ini bilang apa? Ini manis sekali! Dan hanya dengan tahu kalau sahabatku mengingat hari ulang tahunku saja aku sudah senang sekali!” katanya menenangkan hatiku. “Sekali lagi..gomaweoyo!”
Cheonmaneyo!” jawabku sambil tersenyum.
Kami lalu terdiam sebentar. Jantungku berdegup semakin kencang, karena aku berniat akan mengatakan semuanya sekarang. “Seung Hee!” panggilku padaya, ia lalu memandangku sambil tersenyum. Seperti biasanya.
“Ada apa?” tanya Seung Hee.
“Begini..” kataku memulai. Entah kenapa, mulutku seperti tidak mau mengucapkan apapun. Kunci otomatisnya selalu bekerja di saat penting seperti ini..sial! “Seung Hee..sebenarnya..”
nan neoreul saranghae.. i sesangeun neo ppuniya.. sorichyeo bureujiman jeo daedap eomneun.. noeulman burkge taneunde..’ ponsel Seung Hee berdering keras. Ia segera mengambilnya dari dalam tas.
Mian!” katanya padaku, kemudian segera menerimanya. “Yeoboseo?”
Ia terdiam sebentar, kemudian tersenyum. “Hmmh..aku sedang di cafe, bersama Yong Bae! Kau kesini saja!” katanya kemudian. “Iya, kami tunggu! Hmm..cepat ya!”
Ia lalu menutup pembicaraannya.
“Siapa?” tanyaku sambil mengekerutkan kening.
“Sang Wook! Dia akan menyusul kita sebentar lagi!” jawabnya. Ternyata benar apa yang aku perkirakan. Sebentar lagi Sang Wook pasti akan datang. Seperti sudah takdir, ia akan selalu muncul pada saat yang tidak tepat. “Oh ya, apa yang ingin kau bicarakan tadi?”
“Ah..maaf..aku lupa..” kataku bohong. Aku sudah tidak ada mood untuk mengatakannya lagi! Tapi untunglah, sepertinya ia tidak terlalu penasaran.
***

“Nak! Sstt..nak! Musiknya!” bisik seorang bapak-bapak di sebelahku. Aku terkaget, kemudian melihat ke arahnya. Ia menunjuk ke arah pintu gedung yang telah terbuka. Aku baru sadar, aku harus memainkan pianonya untuk mengantar pengantin wanita sampai ke altar.
Aku mulai memainkannya, dan Seung Hee juga mulai berjalan menuju altar di mana Sang Wook berada, dengan di antar oleh ayahnya. Semuanya tampak begitu bahagia, dan mungkin hanya aku di sini yang begitu tersiksa melihat semua ini. Tapi aku harus menahannya, karena mereka temanku.
Pengantin wanita pun sampai di altar, permainan pianoku berhenti, dan upacara pernikahan pun di mulai. Sepertinya aku akan gila melihat semua ini. Aku tidak bisa melihat mereka, tapi aku harus. Seperti makan buah simalakama. Aku terjebak dalam masalahku sendiri, masalah yang aku buat karena aku yang terlalu pengecut.
***

“Kau sudah menyatakannya hyung?” tanya Dae Sung sambil mengeluarkan tas-nya dari dalam loker. Aku menggeleng pelan. “Hah..ayolah..kau benar-benar mencintainya kan? Katakan saja!”
“Tapi..entah kenapa, selalu saja ada yang membuatku urung untuk mengatakannya!” kilahku jujur. Dae Sung tampak berpikir.
“Cincin!” kata Dae Sung kemudian. Aku mengernyitkan keningku. Ia lalu mengangguk mantap. “Iya, cincin! Langsung pakaikan cincin padanya, ia pasti akan segera tahu apa maksud hyung padanya! Tidak perlu banyak basa-basi kan!”
“Ahh..kau pintar sekali!” kataku. Ia tersenyum lebar.
“Aku sering melihatnya dalam drama!” jawabnya. “Aku yakin, pasti akan berhasil! Berjuanglah!”
“Hmmh..gomaweo!”


Cincin emas putih, dengan satu mata berlian di tengahnya. Cincin yang baru saja aku beli. Dan hari ini, aku harus berhasil menyatakannya, dengan cincin ini.
Aku menekan nomor ponsel Seung Hee dan segera menelponnya. Aku tunggu sebentar. “Yeoboseo?” sapanya dari seberang.
“Kau dimana?”



Mobilku berhenti di depan sebuah bar. Aku bergegas masuk untuk mencari seseorang. Aku menemukannya. Seorang gadis dengan baju merah. Aku mendatanginya, kemudian menariknya menjauhi kerumunan.
“Yong Bae! Ada apa?” tanya Seung Hee, gadis yang tadi aku tarik.
Aku lepaskan tangannya setelah sampai di tempat yang cukup sepi. Sepertinya ia kesakitan, memang cengkramanku tadi agak sedikit kencang. “Ada apa?” katanya lagi. Aku memandangnya sejenak, kemudian merogoh saku celanaku.
Namun tepat, sebelum aku menunjukkan apa yang aku bawa pada Seung Hee, laki-laki itu, Sang Wook, entah bagaimana ia tahu kami berada di sini. Aku segera memasukkan lagi cincin itu ke dalam kantong celana ku.
“Hei, kalian sedang apa?” tanya Sang Wook dengan senyumnya yang khas. Aku menggeleng sambil tersenyum juga.
“Tidak!” jawabku.
Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah Seung Hee. Dan apa yang aku takutkan terjadi.
Sang Wook mengeluarkan sebuah cincin emas putih polos dan langsung memakaikannya pada jari manis Seung Hee. “Maukah kau menikah denganku?” katanya cepat.
Sesaat hatiku remuk. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Aku hanya terdiam, memandangi mereka yang kini sedang tersenyum bahagia. Dan sesaat kemudian, Seung Hee menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar. Ia menerima lamaran Sang Wook. Di depanku!
Dan mereka segera pergi menjauh untuk memberitahukan pada teman-teman mereka yang menunggu di meja bar. Aku terdiam, aku tidak bisa berpikir lagi. Semuanya sudah berakhir di sini. Aku tertunduk, dan menyesal sesaat.


Aku memandangi buku musik yang bertengger di atas piano itu. Not balok yang baru saja aku tulis untuk lagu baruku.
Kemarin, Seung Hee menelpon dan memintaku untuk menyanyi di acara pernikahannya. Aku bingung harus menyanyikan lagu apa, dan kemudian aku memutuskan untuk membuat lagu baru. Tapi tampaknya, lagu baruku ini bisa menghancurkan acara pernikahan mereka.
Aku bingung. Aku ingin menangis. Tapi, aku membulatkan tekadku. Aku bangun, menegakkan dudukku, kemudian mulai memainkan tuts-tuts piano itu sesuai dengan not yang baru aku tulis di buku itu. Entah bagaimana jadinya nanti, semoga saja acara mereka tidak hancur hanya gara-gara lagu ini.
***

Sesuai permintaan Seung Hee, setelah upacara pernikahan selesai, aku akan menyanyikan satu buah lagu untuk mereka, dan aku segera memulainya.
Wedding dress, aku ciptakan sepenuh hati untuk Seung Hee. Dan aku menyanyikannya dengan penuh perasaan. Sambil memainkan tuts-tuts piano ini, aku terus bernyanyi, sambil memperhatikan Seung Hee dan Sang Wook yang kini sedang bergandengan tangan di altar. Mereka tampak bahagia.
Namun sesaat, Sang Wook tampak tidak senang. Sepertinya ia sadar, setelah mendengar lagu yang aku nyanyikan ini. Bahwa aku juga mencintai wanita yang baru ia nikahi itu. Senyum yang semula menghiasi wajahnya, makin lama meredup. Tapi ia seperti tidak mau mempermasalahkannya. Ia kembali tersenyum, untuk istri barunya, dan untuk semua yang ada di ruangan ini. Dan sepertinya untukku juga.
***

Seusai acara, kedua mempelai keluar dari gedung dan bertemu teman-teman mereka. Namun aku hanya bisa mengamati dari kejauhan. Terlalu sakit untuk berkumpul dengan keduanya seperti biasa. Tapi, Mereka tampak bahagia, memamerkan status baru mereka. Dan memamerkan cincin mereka.
Ah..ya, cincin.
Aku mengeluarkannya dari saku celanaku. Cincin itu, yang dulu ingin aku berikan pada Seung Hee. Aku mengamatinya sebentar, kemudian aku menurunkan tanganku yang terasa lemas, dan dengan sengaja melepas cincin itu ke tanah. Kemudian pergi menjauhi mereka, setelah tersenyum. Menertawakan pahitnya kisahku, demi kedua sahabatku. Hmh..demi Baek Seung Hee.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar