Sabtu, 15 Agustus 2015

Serial "tRONsformers; the dark of the FACE"

Bukan, postingan ini bukan tentang film parodi Transformers robot-robotan gedek yang kalau dikiloin di Madura bisa buat nraktir orang se-kecamatan beli kwaci. Bukan. Postingan ini berisi link-link kepada tulisan Dede yang dengan teganya menyiksaku menceritakan beberapa cerita kelabuku semasa SMP. Semoga kalian bisa mendapatkan hikmah, "yaelah, ngapain gue baca tulisan-tulisan absurd ini?" setelah kalian tuntas membaca semuanya. Selamat membaca!




don't replay it please : gak ikut catering, ikut makan (di keroyok): http://pauskayang.blogspot.com/2012/01/dont-replay-it-please-gak-ikut-catering.html





pertama kali terdampar di kelas yang bernama 9D : the disaster will be start in NOW: http://pauskayang.blogspot.com/2012/01/pertama-kali-terdampar-di-kelas-yang.html


Jumat, 24 Juli 2015

Kenanglah Mereka

Kenanglah mereka
Yang pernah meluangkan waktunya untuk membahagiakanmu
Sebagaimana kau juga pernah meluangkan waktu untuk membahagiakannya

Kenanglah mereka
Yang tanpa bermaksud dengan sengaja pernah menyakiti perasaanmu
Mungkin mereka hanya bingung, atau tidak tau
Bagaimana menjaga perasaan orang lain seutuhnya, tanpa menyakitinya sedikit pun
Sama halnya seperti kita

Kenanglah mereka
Yang sesekali mengintip kabarmu dari kejauhan
Yang tanpa berusaha sedikit menyapamu, mereka tetap membisikkan doa
Berharap hidupmu dipenuhi indah kebahagiaan

Karena bagaimanapun juga,
Kamu yang sekarang, adalah dirimu yang dulu dan juga orang-orang yang kamu temui

*Surabaya, 6-7-2015*

(Oleh Barin & Roni, disadur dari obrolan tengah malam di suatu grup Line dengan anggota ratusan tentang mantan-mantan terhebat)

Rabu, 03 Juni 2015

Kenapa Politik?

Roni kecil terlahir pada tahun 1997, setahun sebelum reformasi besar-besaran yang mengubah alur hidup Indonesia untuk ke depannya. Roni kecil lahir setelah harapan seorang Ayah selama belasan tahun yang mendambakan mempunyai anak laki-laki.

32 tahun Soeharto berkuasa, begitu besar kesenjangan sosial yang nampak menganga begitu besar di hampir seluruh penjuru Indonesia. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, begitu kata banyak orang. Walau jurang kesenjangan sosial begitu tinggi, problem yang menumpuk di Bangsa ini, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Dibutuhkan mental baja dan kegigihan serta semangat pantang menyerah untuk membawa Bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Negara Indonesia yang semula dibentuk dengan cita-cita terlepas dari penjajahan, justru bagi sebagian besar rakyatnya merasakan penjajahan oleh Negerinya sendiri. Para pemimpin yang dulunya bersatu mati-matian berjuang merampas hak untuk merdeka dari para penjajah, tidak diwarisi dengan baik oleh tahun-tahun berikutnya, bahkan para pemimpin awal-awal tersebut. Suatu ketika, Soekarno pun dengan egoisnya mengeluarkan statement bahwa dia adalah seorang Presiden seumur hidup. Keegoisan menggerus hati nurani dan membuat ribut di Ibu Pertiwi ini. G/30 S PKI, Reformasi, pemberontakan disana-sini adalah beberapa contoh yang berpengaruh di sejarah kehidupan di Indonesia. Sejarah di Indonesia adalah sejarah yang panjang. Sejak kerajaan-kerajaan pun sudah banyak pertikaian untuk merebutkan kekuasaan. Orang-orang yang awalnya ingin memasuki kursi kekuasaan dengan cita-cita untuk menyejahterakan rakyat, kian lama malah menjadi gila kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, demi kesombongan, kebanggaan diri, melindungi diri, memperkaya diri, memuaskan egois sendiri-sendiri. Banyak faktor yang membuat mereka seperti itu; harta, tahta, bahkan juga wanita.  Semoga saya bukan salah satu dari itu.

Harta. Ayah saya mengajarkan pada saya tentang bukan masalah apakah ketika dewasa nanti saya menjadi orang yang kaya raya, bukan. Ayah mengajarkan pada saya untuk selalu bersyukur dengan apapun keadaan saya sekarang. Karena rasa syukur itu adalah kekayaan yang paling besar yang bisa kita rasakan, seburuk apapun keadaan kita seakarang.

Tahta. Sejak kecil hingga sekarang, saya tidak begitu mengerti kenapa begitu banyak orang yang berebut Tahta. Sebagian mindset anak-anak adalah “saat dewasa, saya bercita-cita jadi apa, ya?” Semestinya, mindset terbaik yang tertanam adalah “saat dewasa, saya akan melakukan apa saja, ya?” Mindset inilah yang menurut saya semestinya diterapkan oleh orang-orang di seluruh Indonesia. Jadi, tidak peduli apakah kamu seorang Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, anggota DPR, DPD, DPRD, MK, MA, KY, TNI, Ketua PSSI, Menteri, dan lain-lain. Tapi, bertanyalah pada diri kita masing-masing: “apa yang bisa saya perbuat untuk Indonesia?” Jika semua orang mempunyai mindset begitu, tidak akan pernah ada lagi yang namanya perebutan kekuasaan. Tidak ada kisruh, karena semua punya peran masing-masing untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Wanita. Uhm, untuk yang ini, saya berusaha untuk patuh pada pesan-pesan dari Ibu saya dalam mencari pasangan. Tentunya, saya ingin mencari wanita terbaik supaya Ibu saya bisa tenang. Seorang wanita yang cantik hatinya, yang tidak menunggu saya berada diatas terlebih dahulu, baru memilih saya; tapi siap menemani saya dari bawah. Saya pernah mendapatkan pesan dari seorang teman, ‘Take a chance, Ron. Tidak ada perjalanan yang terasa panjang jika kita mempunyai teman seperjalanan yang menyenangkan.’

Usia saya kini 18 tahun. Saya disodori oleh begitu banyak pilihan dan kesukaan saya untuk akhirnya saya prioritaskan; dan saya memilih politik. Bagi teman yang sangat mengenali saya, mereka tidak akan heran. Tapi bagi yang baru mengenal saya (atau tidak sreg dengna politik), mereka akan heran kenapa saya memilih politik, padahal saya punya passion yang banyak; musik, menulis, olahraga, sains, astronomi, dan lain-lain. Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi biasa saja, atau terlupakan; atau tertulis dalam tinta emas, menjadi bagian dari Indonesia yang lebih baik. Saya mempunyai keinginan untuk berbuat banyak hal di bidang politik, dan hal itu sudah saya mulai perjuangkan semenjak saya duduk di bangku SMP. Saya punya cita-cita Indonesia suatu saat menjadi bangsa yang unggul dalam hampir segala hal. Ayah saya tidak pernah mengajari sama sekali ke saya tentang politik. Semenjak kecil saya belajar politik secara otodidak. Beliau memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih jalan kehidupan saya, dan sangat mendorong apapun pilihan saya. Kakak dan Ibu saya mendorong untuk masuk dunia hukum. Tapi, saya merasa bahwa jika masuk politik, kesempatan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik lebih besar. Tapi, walau saya masuk dunia politik, bukan berarti saya mengabaikan dunia hukum.


Saya tidak tau pasti apakah pilihan saya ini yang paling tepat. Semoga saja ini yang tepat.

Senin, 01 Juni 2015

Pada Pertengahan Pebruari 2013


'Kamu kapan kesini?'

SMS itu datang di pertengahan bulan Pebruari 2013, sehari setelah kami bertengkar hebat, lalu berbaikan dan berjanji untuk tidak saling mengulangi kesalahan yang sama. Saya langsung melihat kalender, lalu membuka dompet saya. Hanya tersisa beberapa lembar berwarna biru. Saya berpikir panjang. Kalau kesana weekend besok, itu artinya saya harus menebus tiket kereta eksekutif yang harganya jauh di atas uang yang tersisa di dompet saya.

‘Kenapa? Kangen ya? :p’

‘Ih, kok tanya gitu… Hahahaha’

‘Kangen enggak? Kalo kangen, aku kesana deh :D’

‘Iya iya… hehehehe. Jadi maluuu’

Saya tersenyum geli melihat SMS dia. Tidak lama kemudian, dia membuat tweet yang berisi “kode”, meminta saya agar secepatnya kesana. Saya semakin merasa bingung.

‘Kalau bulan depan, gimana?’

‘Enggak bisa secepatnya ya? :(‘

Di tengah kebingungan ini, secara tidak sengaja saya melihat tweet @KAI121 yang sedang mempromosikan tiket promo eksekutif seharga hanya 100ribu! Dewi Fortuna sedang menghampiri saya secara tiba-tiba. 

‘Enggak tau… Tiket kereta ekonomi habis untuk weekend ini, ada pun yang eksekutif. Mahal :(‘
‘Yah, yaudah deh… Yang penting kamu secepatnya kesini…’

Hehehe. Saya terkekeh sendiri di depan layar laptop. Berniat memberi sedikit kejutan untuk dia.
***
‘Coba lihat mention aku barusan,’ saya mengirim SMS kepada dia 2 jam setelah saya berjuang mati-matian mendapatkan tiket promo kereta eksekutif jurusan ke Bandung. Sebenarnya, saya ingin mendapatkan kereta yang langsung jurusan ke Jakarta. Tapi saya telat beberapa menit dari pelanggan lain yang berhasil menyabet tiket yang saya incar. Akhirnya, saya memesan tiket promo jurusan Surabaya-Bandung, Bandung-Jakarta, dan Jakarta-Surabaya. Ya, namanya juga tiker promo… Gapapa lah. Saya jadi bisa jadi jalan-jalan dulu di Bandung.

‘Ihhhhh, seriusan kamu ke Jakarta lusa besok?’

Dia membalas SMS saya setelah melihat twitpict 3 lembar tiket kereta yang saya mention ke dia.

‘Hehehehe. See you :)’

‘Ihhh, enggak sabar deh. See you too :)’


***

Perjalanan ke Bandung saya mulai dengan naik bemo dari rumah saya menuju ke Stasiun Gubeng. Setelah berpamitan pada orang tua, saya sempatkan mampir Indomaret untuk membeli 2 botol Aqua berukuran jumbo untuk bekal di perjalanan. Barang-barang saya terlampau tidak cukup untuk saya masukkan ke dalam tas. Saya pun membawa koper berisi baju-baju yang didesaki dengan 2 botol Aqua jumbo serta peralatan mandi. Di sepanjang perjalanan di atas bemo, orang-orang ngelihatin saya dengan tatapan enggak banget. Keliatannya elit bawa koper mau pergi jauh, tapi naik bemo. Ya, namanya juga ngirit, mas bro…

Sesampai di Stasiun Gubeng, kereta yang akan membawa saya ke Bandung ternyata sudah siap. Saya sangat beruntung. Tidak hanya mendapat tiket promo, ternyata kursi sebelah saya tidak ada orangnya. Saya lebih leluasa menikmati tempat duduk, hehehe. Namun, saya mendapat teman ngobrol sepanjang perjalanan. Seorang mahasiswi semester 2 yang berkuliah di suatu universitas di Jogja. Saya mendapat banyak cerita untuk bekal saya kelak menjadi mahasiswa. Di tengah obrolan, sesekali saya berkomunikasi dengan dia yang berada di Jakarta sana.

‘Maaf, sinyal di atas kereta susah banget. Tapi aku bales kok tiap ada sinyal…’

‘Iya, gpp, aku ngerti kok. Yang penting, rindu aku besok terbalaskan…’

‘Preeet!’

Saya tertawa cekikikan membaca gombalan dia. Mbak Mahasiswi di depan saya memasang tampang melongo tanda heran dengan tingkah saya.


Sepanjang perjalanan ke Bandung di atas rel baja saya merasa bahagia. Tidak berhenti saya tersenyum-senyum sendiri. Bahagia karena banyak sekali keberuntungan yang saya dapatkan. Bahagia karena rasa debar yang semakin mengganggu hati saya, ingin sekali menuntaskan rindu bertemu dengan dia di Jakarta sana. Saya teringat lirik sebuah lagu JKT48: “Kebetulan itu sebenarnya skenario yang telah disiapkan, tanpa diketahui oleh siapapun. Setiap kali diriku memikirkan dirimu dadaku jadi sesak bernafas pun menjadi sulit, I’m loving you! ♪♪♪’

Lagu itu saya putar berulang kali di perjalan saya di atas rel baja. Saya tidak peduli status kami yang tidak jelas tanpa ada kepastian. Untuk sekarang, yang ingin saya rasakan adalah selalu bahagia. Itu saja cukup. Perjalanan di atas baja kurang lebih 11 jam yang biasanya saya lewatkan dengan berbagai macam aktifitas untuk mengusir kebosanan, kini tergantikan oleh senyum yang menghiasi wajah saya sepanjang perjalanan. Saya tidak sabar untuk bertemu dengan dia besok.

***

Setelah sehari bermalam di rumah seorang teman di kawasan Sarijadi, Bandung, hari ini saya hendak menuju ke Jakarta. Saya diantarkan teman saya menuju Stasiun Bandung dengan sepeda motor, setelah jalan-jalan berkeliling kota Bandung sebentar. Tiba di Stasiun Bandung, saya langsung menuju ruang tunggu penumpang. Kereta baru akan berangkat 1 jam lagi, tapi saya sudah tiba di Stasiun. Waktu yang masih lama saya manfaatkan dengan mencharger HP saya dan membaca novel sambil menikmati Live Music yang dilantunkan oleh pemain musik di ruang tunggu Stasiun Bandung. Saya sangat menikmati momen ini. Ruang tunggu yang sangat bersih, hawa udara kota Bandung yang sangat sejuk, wajah ceria anak-anak yang lalu lalang bermain-main di ruang tunggu, para penumpang yang tiba di Stasiun Bandung dengan muka cerah, beberapa orang tua yang tertawa melihat kekonyolan seorang temannya yang berani tampil menyanyi dengan diiringi para pemain musik di ruang tunggu Stasiun Bandung. Saya pun sempat mengeluarkan selembar 5 ribu rupiah sebagai tanda apresiasi atas penampilan para pemain musik di ruang tunggu Stasiun Bandung yang sangat menghibur.

20 menit sebelum kereta yang akan membawa saya ke Jakarta berangkat. Tiba-tiba, suasana ruang tunggu Stasiun Bandung mendadak ramai. Banyak orang yang membawa kamera, mic, dan alat rekam lainnya tergopoh-gopoh beramai-ramai masuk ke lintasan rel kereta api. Mungkin itu para wartawan. Keheranan saya terjawab 5 menit kemudian, ketika saya menangkap sosok Pak Joko Widodo berjalan beriringan dengan Teteh Rieke Dyah Pitaloka dengan pengawalan ketat dari para bodyguard dan simpatisan mereka. Oh, Pak Jokowi lagi mau kampanye pencalonan Teteh Rieke Dyah Pitaloka di Bandung, toh. Momen ini tidak saya lewatkan begitu saja. Saya langsung mencabut kabel charger HP saya, dan menuju masuk ikut berdesakan dalam rombongan Pak Jokowi. Kapan lagi saya bisa ketemu idola saya satu ini? Saya semakin mendesak masuk ke dalam rombongan, berusaha mendekati Pak Jokowi. Bingo! Setelah 2 menit berdesakan, saya berhasil menggapai tangan beliau dan menjabatnya erat beberapa detik. I’m love this moment. Tiket kereta api eksekutif yang murah, perjalanan yang menyenangkan, suasana yang bahagia, masih ditambah dengan saya berhasil bersalaman dengan idola saya! 3 hari ini alam semesta sedang berbaik hati pada saya.

***

Perjalanan di atas rel baja Bandung-Jakarta kurang lebih 3 jam, saya habiskan dengan mendengarkan musik melalui earphone sambil melihat pemandangan yang menakjubkan. Beberapa jam ini saya tidak berhenti mengucapkan Subhanallah dalam hati. Memang luar biasa Allah menciptakan dunia dan seisinya. Begitu indah, sangat indah. Saya takjub dengan suguhan pemandangan melalui jendela kereta.

Tiba-tiba, seorang ibu-ibu yang duduk di samping saya mencolek saya, dan menyodorkan sebuah biskuit. Saya membalasnya dengan melambaikan tangan kanan saya sedikit sambil tersenyum tanda menolak dengan halus sekaligus berterimakasih sudah menawarkan. Pandangan saya teralih pada HP, ada SMS masuk. Rupanya SMS dari kakaknya yang tinggal di Bogor.

‘Katanya neng kamu ke Jakarta, ya? Sini main sama A’a.’

‘Iya A’a, ini lagi perjalanan ke Jakarta. Emang A’a lagi dimana?’


‘Di Bogor. Oh, langsung mau ketemu neng di Jakarta?’

‘Iya. Tapi boleh deh main sama A’a. Aku naik apa ke Bogor?’

‘Kamu naik aja KRL jurusan ke Bogor, bilang kondekturnya turun di Stasiun Bogor. Kamu udah ada tempat menginap? Kalau mau menginap aja disini.’

‘Oke. Mungkin aku kesana Insya Allah jam 10 malam. Gapapa nih? Takut ngerepotin kalau menginap disana, hahaha.’

‘Santai aja. Ada mama, kok. Insya Allah dibolehin.’

‘Oke deh. Nanti aku hubungin lagi.’

Ah, diajak nginap di rumah calon mertua, hehehe. 


***
Setelah pertemuan singkat dengan dia di Jakarta, saya bergegas menuju Stasiun Dukuh Atas hendak menuju ke Bogor. Dia sedang ada jadwal lain yang tidak bisa ditinggalkan, dan kami membuat janji untuk bertemu keesokan harinya lagi. Pertemuan singkat namun penuh dengan makna. Selama pertemuan singkat tadi, saya lebih banyak mendengarkan dia yang bercerita dengan penuh antusias, sambil menikmati senyumnya yang merekah indah. Kami lalu berpisah diakhiri 2 telapak tangan yang bertemu satu sama lain di udara, berjanji bahwa esok hari kami akan membuat sebanyak mungkin kenangan yang mengesankan. Saya memutuskan tidak menceritakan kalau saya hendak menginap di rumah dia di Bogor, takut dia marah.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 21:20 ketika saya tiba di ruang tunggu KRL hendak menuju Stasiun Bogor. Saya duduk lesehan di tepi lintasan kedatangan kereta, sambil berkomunikasi dengan kakak dia yang sedang bersiap menjemput saya setiba di Stasiun Bogor.

Ini pertama kalinya saya naik KRL. 8 ribu rupiah menurut saya sangat layak untuk perjalanan ke Stasiun Bogor dengan sangat nyaman. AC yang dingin, kursi yang empuk. Ditambah lagi, penumpang KRL kali ini tidak begitu banyak, jadi saya bisa leluasa meletakkan barang-barang saya di samping duduk saya.


‘Udah sampai mana, Ron? Kamu naik ojek aja ke tempat Z, nanti A’a ganti ongkosnya.’

‘Enggak tau nih, tapi kata penumpang sebelahku kurang lebih 10 menit lagi sampai. A’a enggak jadi jemput aku? Oke deh. Nanti aku hubungin kalau udah di depan tempat Z.’

Saya lalu menghubungi seorang teman baik saya, Taufik namanya, seorang Railfans yang tinggal di Bogor.

‘Fik, lu tau tempat Z enggak?’

‘Oh, itu deket rumah gue kok. 1 km dari sini. Emang kenapa?’

‘Itu kalau dari Stasiun Bogor kesana jalan kaki jauh enggak?’

‘Enggak seberapa sih. Itu tempat Bilyard.’

‘Oh, tempat Bilyard… Yaudah, makasih, fik.’

Tidak lama kemudian, display HP saya menunjukkan ada SMS masuk.

‘Ron, udah dimana? A’a udah di depan pintu keluar Stasiun Bogor.’

‘Loh, bukannya A’a enggak jadi jemput?Kayaknya bentar lagi sampai deh.’

Belum sampai saya menekan tombol sent, kereta yang membawa saya berhenti dengan perlahan, menandakan bahwa sudah tiba di Stasiun Bogor. Saya klik tombol sent SMS saya, lalu bergegas berlari keluar dari KRL, menyapu pandangan di sekitar saya, mencari sosok A’a.

Perjalanan 20 menit menuju rumah dia di Bogor menggunakan sepeda motor A’a, saya habiskan dengan mendengar cerita A’a. A’a bercerita banyak tentang si dia, mamanya, dan keluarganya. A’a lalu berpesan bahwa jangan bilang ke mamanya kalau dia barusan dari tempat bilyard, takut dimarahin. Dia bercerita bahwa  mamanya melarang dia mendalami bilyard, takut dengan pengaruh dunia malam. Padahal, A’a adalah atlet bilyard di kota Bogor dan berhasil tembus di tingkat Jawa Barat. Saya bisa mengerti hal itu. Terkadang memang orang tua tidak setuju dengan apa keinginan kita, walaupun itu baik. Faktor kekhawatiran menjadi yang paling utama.

***
2 hari berlalu semenjak saya tiba di Bogor.

Kini saatnya saya harus pulang ke Surabaya. 3 hari yang sangat menyenangkan, sekarang menjadi kenangan manis untuk saya ingat. Di rumah dia di Bogor, mamanya banyak bercerita tentang dia yang ditinggal papanya saat masih kecil. Mamanya bercerita banyak hal tentang kebiasaan, keseharian, dan banyak hal tentang dia. Saya makin kagum dengan dia, ketika mamanya bilang bahwa dia memiliki 2 lemari penuh berisi piala hasil prestasi dia sejak kecil. Nyali saya menjadi ciut. Saya merasa bahwa saya sangat tidak sebanding dengan dia. Tapi saya sangat beruntung bahwa untuk sementara ini dia memilih saya, walaupun tanpa status yang jelas. Komunikasi, pertemuan kami, sudah cukup untuk menjelaskan bahwa kami memang mempunyai rasa yang sama. Yang harus saya lakukan sekarang adalah, memperbaiki diri sebaik dan sehebat mungkin agar kelak bisa pantas untuk dia.


Pukul 19:30 tanggal 17 Pebruari 2013 saya pulang ke Surabaya menaiki Kereta Api Eksekutif Sembrani dari Stasiun Gambir dengan membawa kenangan serta kebahagiaan yang begitu luar biasa indahnya. Di sepanjang perjalanan di atas rel baja menuju Surabaya, saya terus-menerus berusaha berkomunikasi dengan dia, sesakali sambil mengeluh susahnya sinyal  di atas kereta.

‘Kamu udah baca surat dari aku?’

‘Udah, bagus banget! Aku jadiin scrapbook, kasih hiasan juga hehehe.’

‘Hahaha. Semoga suka, ya :)’

‘Suka banget kok. Makasih ya, makasiiiihhh banget.’

‘Waaahhhh >< Eh iya, menurut mama kamu, aku orangnya gimana?’

‘Baiiikk, tapi susah dibangunin! Hahaha :p’

'Ya emang aku gitu… -_- Terus apa lagi katanya?’

‘Emmm, itu aja sih… Kenapa emang?’

‘Gapapaaa. Coba tanyain, mau enggak kalo aku jadi menantu mama kamu?’

‘Heh! Hahahaha.’

‘Hahahahhaa :p’

‘Makasih banyak sekali lagiiiiiiiii. Aku seneeeenggg bangeeeetttt”

'Terimakasih juga buat semuanya! Tidur sana, udah jam 10 malam. Besok kamu sekolah, toh?’

‘Iya, hehehe. Kamu juga tidur, ya. Besok masuk pagi juga, kan? Apa enggak dimarahin kalau datang terlambat?’

Enggak, tenang aja. Kan ayahku udah buatin izin surat terlambat. Udah, udah, tidur sana…’

‘Iyaaaa, aku tidur dulu ya :D Thank you, good night, have a nice dream :)’

‘Have a nice dream too. Selamat tidur, kamu :)’

Malam itu, di atas kereta berkecepatan tinggi yang berlari di atas rel baja, saya mendekap selimut erat-erat menutupi seluruh tubuh saya melawan hawa dingin AC dalam kereta. Dibalik selimut, saya tersenyum. Tubuh saya kedinginan, namun perasaan saya sangat hangat. Malam itu saya pulang dengan senyum yang mengembang sepanjang perjalanan.

Senin, 09 Juni 2014

Ketika Monyet Bertasbih

Tulisan lama sih. Tulisan ini saya buat 7 Desember 2011 dan rampung sehari setelahnya, setelah saya terkena syndrome pengen jadi kayak Raditya Dika. Pertama kali tulisan ini saya posting di Facebook. Dan saya taruh disini dengan sedikit perubahan beberapa kata, serta tanda baca yang kurang tepat. Ngomong-ngomong, saya juga lupa kenapa saya kasih judul "Ketika Monyet Bertasbih"...


Boybencong



Akhir – akhir ini , di pesbuk lagi ramai – ramainya perbincangan hot tentang se-su-a-tu yang bernama JKT48 . JKT48? Apaan sih? Gue cuma bisa bengong , diem , melongo di depan layar monitor komputer kesayangan gue yang gue kasih nama Alfa. Gue jadi galau. Daripada gue tidur penasaran, dan akhirnya arwah gue gak tenang dan gentayangan di dunia alam tidur, akhirnya gue pun search di mbah Google . Alhasil, gue nemuin artikel – artikel plus foto cewek – cewek yang pake kaos putih dengan tulisan “JKT 48” sama pake rok mini – mini. Awalnya gue kira mereka semua tuh anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan karena pakaian yang mereka kenakan sama semua, tapi setelah gue selidiki lebih dalam ternyata mereka calon Idola. Yaelah , gue kirain apaan. Setelah puas tahu apa itu JKT 48, akhirnya gue bisa pergi ke alam tidur dengan tenang .

Besok paginya, waktu gue masuk ke kelas, gue udah disambut Dede, teman sebangku gue dan sobat gue yang paling baik sekaligus orang-orang memanggil kami adalah pasangan homo yang harmonis. Kalian tahu kenapa gue sama Dede dibilang homoan? Karena dimana ada gue, selalu ada Dede. Jadi, kalo ada yang nyariin Dede lagi boker di WC sekolah, gue pasti ada di depan WC setia menunggu. Baru duduk di bangku , gue udah dicutek (cubit tetek) sama Dede.

“Kampret, tumben lo udah dateng jam segini. Biasanya lo kan jam segini masih dengan indahnya tidur sambil kayang”, kata Dede .

Gue cuma bisa cengegesan denger perkataan Dede. Yah , gue emang hebat. Kalo ada Guinnes Worl Record kategori terlambat masuk sekolah, gue bakalan yang menang. Gue emang bangun jam setengah 5 shubuh. Habis sholat shubuh, lanjut ngorok lagi sampai jam 6 pagi. Perlu diketahui, gue ini anak orang kaya. Tiap hari mobil jemputan gue ganti – ganti . Apalagi sopirnya. Gue nunggu dengan sabar jemputan BMW gue (Biru mobil warnanya) -> baca : BEMO MLK.

Waktu istirahat, gue kaget waktu cari kartu pembayaran katering gue gak ada di tas. Setelah gue obok – obok tas gue, tetep gak ada. Kampret, ketinggalan .

Akhirnya gue ngajak Dede pergi ke ruang guru, mau bilang ke Bu Lis kalo uang buat bayar katering ketinggalan. Sampai di kelas lagi, Dede tiba – tiba cengegesan gak jelas.
“Napa lo?”, tanya gue .

“Gak gak – papa. Eh, nanti lo jangan buka wall facebook gue yaa,” kata Dede sambil ketawa. Heran dibilangin kayak gitu, gue jadi penasaran.

Sampai di rumah, gue langsung buka akun facebook gue. Karena masih penasaran sama omongan Dede tadi, gue buka wall facebooknya.

Dia bikin status, “Air, Tanah, Api, Udara. Dahulu keempat Negara hidup dengan damai…. Namun semua berubah, ketika Negara Api menyerang. Hanya SHIDQON penguasa ke empat elemen yang bisa menghentikannya….. Namun saat dunia membutuhkannya……. DIA BELUM BAYAR KATERING . Seratus tahun kemudian aku dan se-RT mencari avatar…. Dan kita menemukan avatar yang baru ,yang bernama Aang…. Tapi dia masih belum bisa mengendalikan kekuatannya… Tapi aku percaya, dia pasti bisa…. (BAYAR KATERING)

………. DEDE JAHANNAM.

Gondok, gue balas dendam. Gue koment statusnya pake copy paste sampai puluhan kali. “Apa sih sayangku ??♥♥”

Dia balas, “SAPA PUNYA ALAT KONSTRUKSI BANGUNAN ??!! BUAT BANGUN JURANG BUAT KUBURANKU !!!!PLISSS …….. LET ME GO … HUAAAAHHHHHHHHH !!!!!!!!!!!


***


Ngomong – ngomong soal Boyband sama Girlband, gue jadi heran. Sekarang banyak banget abg – abg yang ngumpulin temen buat ngebentuk Boyband atau Girlband. Dan kenapa harus ABG? Gue coba bayangin kalo yang nyanyi lagu Playboy-nya 7 icons itu nenek – nenek, joget dengan labilnya dengan latar belakang lampu kuning ama item. Anjrit, pasti bakal laku keras di pasaran. Maksudnya albumnya bakalan diinjek – injek keras sama massa. Gile.

Gue sama Dede juga terobsesi sama Boyband Korea. Dan yang paling kita idolakan itu boyband korea yang bernama Big Bang. Saking terobsesinya, gue sampe ngajak Dede sama Satria bikin video klip lagu Haru Haru.

Akhirnya, kita mulai video klip Haru Haru. Karena waktu itu Handycam kita bertiga lagi rusak, akhirnya kita pake kamera hp Satria.

Gue yang dapet bagian pertama ngerekam. Tangan kiri gue megang hp Satria, sedangkan tangan kanan gue megang laptop Satria yang lagi muterin lagu Haru Haru.

Adegan pertama diawali dengan Dede yang duduk di atas balkon, memandangi langit yang ada di luar jendela sambil akting kayak orang beneran frustasi habis divonis sama dokter kena kanker payudara stadium 4. Setelah lirik pertama berjalan, Dede perlahan turun dari balkon, menuju ke arah gue sesuai skenario yang gue buat. Sambil lypsinc, tiba – tiba dia melorotin celananya.

“Bentar , gue kebelet boker”, kata Dede nyelonong keluar kamar Satria .

Kampret, udah bagus – bagus adegannya malah dihancurin gitu.

Setelah itu, adegan kedua yang dilakuin Satria. Dia duduk di kursi, sambil lypsinc dan mendalami penjiwaan yang dia perankan. Mantap, Satria memang top markotop.

Setelah itu giliran gue. Gue meranin adegan waktu reff lagu. Giliran Satria yang megangin hp sama laptop. Gue lakuin adegan dengan pendalaman jiwa yang amat dalam sedalam dalam dalamnya lautan bumi.

“Halo……” Tiba – tiba musik dari laptop berhenti. Anjritt, ada telpon masuk waktu gue asik – asiknya berakting. Gondok, gue pergi dan lanjutin main playsation.

***

Ngomong – ngomong soal permusikan Indonesia, sekarang banyak dijajah sama Boyband sama Girlband. Bahkan, band yang dulu terkenal perlahan – perlahan hilang. Dimulai dari Peterporn, Ada Bandcong, Violet , dan masih banyak lagi. Di telepisi sekarang lagi gencar – gencarnya audisi Boyband sama Girlband. Gue jadi pengen ikutan. Ntar kalo seumpama gue udah terkenal dengan Boyband yang gue bentuk, pasti banyak yang ngefans sama gue. “PUJA KULIT BENCONG AJAIBB !!! Uuuuuhhh ~”

Tapi yang lebih memperhatikan, sekarang juga banyak ngetren lagu – lagu dibelokin dari arah yang sebenernya. Yap , lagu – lagu Boyband sama Girlband Korea dinyanyiin pake dangdu . Gue langsung mimisan waktu ngeliat di salah satu stasiun telepisi , ada lagu Ring Ring Dong – nya Shinee dinyanyiin pake Dangdut. Yang gue harapin, semoga lagu – lagunya SNSD gak bakalan dinyanyiin sama Omas dkk. Karena pasti bakal dapet penghargaan dari musik internasional.

Balik lagi ke masalah video klip gue sama Dede dan Satria. Karena pada sebelumnya kita udah gagal, gue ngebet minta bikin ulang lagi. Gue janjian sama Satria dan Dede buat hari Sabtu bikin video klip ulang di kamarnya Satria.

Karena Dede ganti SIM card, akhirnya gue coba sms dia setelah dikasih nomer barunya.

Gue : Tes
Dede : Tis
Gue : Hah ?!
Dede : Tes – tis . Tes – tis .
Gue : -____-
Dede : Huahuhahaha
Gue : Jadi gak nih bikin ulang video klipnya ?
Dede : Jadilah bego . Kenapa emang ?
Gue : Gpp , gue cuma mau mastiin aja . Sekarang lo dimana ?
Dede : Di hatimu ♥♥
Gue : …………

***


Sekarang juga lagi jamannya jadi terkenal dari Youtube. Tahu kan Justin Bibir? Dia mulai terkenal dari sebuah video di youtube, padahal dia dulunya cuma seorang pengamen jalanan. Sekarang? Siapa cewek – cewek ABG yang gak tahu Justin Bibir? Dunia rasanya seperti semudah membalikkan kancut yang sedang dijemur. Dan yang lagi ngetren sekarang di Indonesia, yaitu video Keong Racunnya Shinta – Jojo sama Chaiya – chaiyanya Briptu Norman. Gara – gara ini, gue keobsesi jadi artis gara – gara terkenal di Youtube. Gue bayangin, gue sama Dede nyanyiin lagunya Ayu Teng Tong “Alamat Palsu” dengan video Dede yang ngobrak – abrik se – RT Cuma gara – gara nyariin kancutnya.

Gue juga sempet pernah denger gombalan yang kayak gini. “Papa kamu tentara ya ?” tanya si cowok. “Kok tahu ?” si cewek tanya balik. “Iya , karena kamu sudah menchaiya – chaiya hatiku . Terinspirasi gombalan itu , gue coba ke cewek temen les gue yang gue taksir.

Gue : “Dev , papa kamu ….. tentara ya ??”
Devi : “Sok tau”
Gue : “ ………………………………….”

Jumat, 07 Maret 2014

Catatan Perjalanan 21-23 Pebruari 2014: BINGO!

Sekitar 3-4 bulan yang lalu, saya lupa tepatnya kapan, @ForumAstronomi berkicau di Twitter mengatakan bahwa akan mengadakan Try Out untuk persiapan menjelang Olimpiade Sains Astronomi 2014. Try Out dibagi 2: Try Out Online, dan Try Out secara langsung yang diadakan di Planetarium. Saya yang daridulu memang sudah menanti-nantikan momen ini, akhirnya mendaftarkan diri untuk ikut serta. Akhirnya, setelah sebulan pendaftaran dibuka, saya mendaftarkan diri pada tanggal 21 Januari 2014. Saya mendaftar untuk ikut Try Out di Planetarium pada tanggal 22 Pebruari 2014, dan Try Out Online pada 1 Maret 2014. Ya, tanggal 22 Pebruari 2014 saya hendak ke Jakarta dengan niat 1: mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang Olimpiade Sains Astronomi 2014. Tidak ada niat'an sama sekali untuk main-main ke FX, atau... you know lah. Intinya, saya ke Jakarta pada tanggal 21-23 Pebruari tidak bermaksud wota-wota'an dulu.

Pengumuman dari @officialJKT48 pada akhir Januari 2014 mengubah niat saya. JOT mengumumkan bahwa Senshuraku (show terakhir) setlist Team K III Boku no Taiyou diadakan pada tanggal 22 Pebruari 2014. Dan, Event Handshake Manatsu no Sounds Good yang semestinya diselenggarakan pada awal Pebruari, diundur oleh JOT dan diselenggarakan 23 Pebruari 2014. Lucu. Dimana ketika saya hendak ke Jakarta tanpa niat wota-wota'an, rupanya... Ya... Hehe.

21 Pebruari pukul 2 siang lebih 45 menit saya mulai perjalanan menuju ke Stasiun Pasar Turi. Kereta yang akan saya tumpangi akan berangkat sekitar 15 menit lagi. Ibu saya sudah ngomel-ngomel sejak 1 jam yang lalu karena takut saya ketinggalan kereta. Namun, karena jarak yang tidak begitu jauh, saya memilih naik becak daripada taksi, hehe. Serius, naik becak itu nikmat. Banget.





Rupanya, meskipun jarak dengan stasiun dekat, becak yang saya tumpangi cenderung melaju pelan. Saya sudah berulangkali mengingatkan kepada tukang becaknya agar dipercepat. Pukul 14:59 saya tiba di depan Stasiun Pasar Turi. Saya turun dari becak dan berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam stasiun. Setelah masuk peron, terlihat kereta Kertajaya mulai berjalan perlahan. Sontak saja saya berlari menembus keramaian orang-orang yang menyesekai peron. Saya sempat di teriaki oleh petugas, karena kereta sudah mulai berjalan. Tapi, masa bodoh buat saya. Yang penting saya tidak ketinggalan kereta. Setelah berhasil masuk di dalam kereta yang berjalan pelan, saya baru tersadar 1 hal; kereta masih kosong momplong tidak ada orang. Karena takut ternyata salah naik kereta, saya bertanya kepada petugas yang ada di atas kereta. Kata petugas tersebut, kereta ternyata sedang hendak "parkir". Karena penumpang belum naik ke dalam kereta, kecuali saya seorang diri. Oke... -_- 



Pukul 15:07 kereta mulai berjalan meninggalkan Stasiun Pasar Turi, hendak menuju Jakarta. Sekitar jam 7 malam, saya meng-tweet di akun fanbase yang saya pegang, bahwa saya sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Dan secara kebetulan, ada seorang followers fanbase saya, fans JKT48 dari Cepu menanggapi tweet saya, dan mengatakan bahwa dia juga sedang berada dalam kereta yang saya tumpangi. Lucu. Karena hal ini sudah berulangkali terulang setiap saya tweet seperti itu. Sebelumnya, saya (secara tidak sengaja) bertemu dengan fans JKT48 dari Jogja, Malang, Kediri, Madiun, Semarang, dll di dalam kereta yang saya tumpangi. Wota everywehere.



Sekitar jam 4 Shubuh saya tiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Seorang teman, Bondan namanya, sudah berjanji bahwa akan menjemput saya di Stasiun Pasar Senen. Setelah turun dari kereta, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari keberadaan teman-teman fans JKT48 dari Jogja yang kebetulan juga baru tiba di Stasiun Pasar Senen, tapi beda kereta dengan saya. Di depan salah satu supermarket Stasiun Pasar Senen, saya bertemu dengan Taufik, Adit, Hutama, dan teman-teman fans JKT48 dari Jogja yang lainnya. Setelah melepas kangen dan ngobrol-ngobrol sebentar, saya pamit pergi lebih dulu karena sudah dijemput oleh Bondan yang menunggu di depan Stasiun Pasar Senen.

Gerimis yang turun dari langit Jakarta mengawali perjalanan saya menyusuri jalanan Shubuh kota Jakarta bersama Bondan. Saya dan Bondan pun bergegas menuju ke kost Galih di daerah Binus.



Setengah 5 pagi saya tiba di kost Galih. Baru datang, saya disambut Galih dengan disodori oleh photopack Nadila yang diberikan ke saya secara cuma-cuma, hahahaha. Thanks, Gal. 



Pukul 8 Try Out Astronomi di Planetarium dimulai. Hujan deras tidak menyurutkan niat saya untuk berangkat ke Planetarium. Dan... saya berterimakasih banyak kepada Bondan yang sudah mengantarkan saya yang buta Jakarta kemana pun.


Akhirnya, tiba juga saya di Planetarium. Wooooooooohhh, seneng banget rasanya. Puluhan kali saya ke Jakarta, tapi baru pertama kali ini ke Planetarium. 




Try Out Astronomi yang saya tunggu-tunggu pun terjadi juga. Try Out ditunda 30 menit karena kondisi hujan yang sangat deras, dan banyak peserta yang datang terlambat, termasuk saya, hehe. Acara Try Out dimulai dengan pembukaan dan sepatah-dua patah dari kakak-kakak @ForumAstronomi. Saya menyimak dengan seksama, dengan hati yang berbunga-bunga... "SAYA BERADA DI PLANETARIUM, WOH!" Biar dikata norak baru pertama kali ini saya kesini. Tapi, seriously, excited banget. Bahagia banget bisa berada di Planetarium, enggak tau kenapa.

Pukul 8:30 kakak-kakak panitia mulai membagikan soal. Waktu mengerjakan soal Try Out pun dimulai. Baru 1 menit membolak-balik halaman soal, satu kata yang terbesit di kepala saya: MAMPUS. Gila, parah, susah banget. Dengan ilmu saya tentang Astronomi yang masih cuma-bisa-bab-mekanika-benda-langit- dihadapkan dengan soal-soal yang begitu sadis, saya pengen melambaikan tangan. Oke... Bulan-bulan sebelumnya memang saya habiskan dengan membaca e-book Astronomi yang diberi oleh Bang David Orlando, peraih medali emas Olimpiade Astronomi Internasional 2014. Hampir semua bab daalam e-book sudah saya baca. Tapi, yang enggak saya lakukan: mengingat dan memahaminya. Jadilah, dengan kertas Try Out di hadapan saya, saya cuma bisa melongo parah. 

Saya mengerjakan soal-soal Try Out semampu saya. Mungkin hanya bisa 5 nomor dari 40 nomor. Ditambah lagi, soal-soal bahasa Inggris yang semestinya bisa saya jawab, namun karena bahasa Inggris saya payah, saya jawab ngawur. Soal-soal esai pun semestinya bisa saya jawab. Namun, lagi-lagi, karena saya tidak ingat sama sekali, bahkan tidak menguasai rumus-rumus, saya jawab ngawur semuanya, hehe.

Setelah 2 jam penuh dengan pembantaian sadis mikir soal-soal absurd, saya memutuskan segera keluar. Saya harus segera ke FX. Iya, FX... 2 hari sebelumnya, saya iseng apply tiket Senshuraku. Saya sudah berniat, kalu tidak menang undian tiket Theater, yaudah. Tapi, takdir berkata lain. Dari sekian ribuan undian, saya berhasil memenangkan 1 tiket last show Theater BnT. 

.*** 
Bersambung

Minggu, 09 Februari 2014

Penantian Tak Berujung

Ini jalan yang kupilih
Mengagumi kamu, meski tau tidak akan berbalas
Berbuat banyak hal, meski tau tidak akan berbalas
Mengorbankan banyak hal, meski tau tidak akan berbalas
Dan aku tidak pernah menyesali itu

Kamu adalah sosok yang aku harapkan bergabung dengan aku, menjadi "Kita"
Sosok yang setiap hari selalu memenuhi pikiranku
Yang setiap hari memenuhi dadaku
Sosok yang duduk manis di dalam sudut hatiku
Yang aku jadikan pacuan untuk aku lampaui

Namun, aku sadar...
Harapan tidaklah selalu bisa menjadi kenyataan
Ada ribuan orang di luar sana yang punya harapan sama denganku
Kamu dan aku adalah dua hal yang berbeda
Mungkin, hanya keajaiban yang bisa mewujudkan harapanku

Ya... Aku bukan siapa-siapa...
Aku hanya seorang dari ribuan orang yang menaruh mimpi indah untuk bisa bersamamu
Bahkan, mungkin saja, keberadaanku tidak pernah kamu anggap
Tapi, yasudahlah... Aku cukup mengerti
Cukup mengerti bahwa semua keinginanku adalah angan-angan

Aku tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan ini langsung kepadamu
Hanya sebatas mention di Twitter, atau melalui fanletter
Bahkan, untuk mendekatimu saja aku tak berdaya
Hanya sebatas melalui row 3, atau meja hitouch
Atau bahkan, sekedar melalui layar kaca

Inilah aku
Aku yang mengagumimu
Aku yang menyukaimu
Aku yang mendukungmu
Aku yang mengingatkanmu dikala engkau salah

Aku benci dengan semua ini
Penantian yang tak berujung
Penantian tanpa kepastian
Perasaan yang tak berbalas
Harapan-harapan yang menggantung

Namun, dibalik itu semua, aku bahagia
Aku bahagia ketika kamu muncul di Timeline
Aku bahagia melihat kamu di atas panggung
Aku bahagia ketika bertemu kamu
Aku bahagia ketika berinteraksi denganmu

Aku bahagia menghabiskan masa mudaku dengan imajinasi
Bukan dengan rokok, alkohol, ataupun narkoba
Aku bahagia melampiaskan fantasi di F4
Bukan dengan hal negatif lainnya
Dan yang terpenting, aku bahagia bisa mengenalmu

Aku bahagia di fandom ini
Aku bahagia bertemu dengan banyak teman baru
Bisa mengenal hal-hal baru
Pengalaman baru
Dan yang terpenting, ada kamu di dalam itu

Terimakasih sudah menjadi motivasiku
Terimakasih sudah mengisi hari-hariku
Terimakasih sudah membuat banyak hal indah dalam hidupku
Terimakasih banyak, Oshiku
Terimakasih